Selamat Datang di Situs PGI
image

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI)

(6221) 3150451


Jl. Salemba Raya No. 10 Jakarta Pusat 10430 Indonesia

Telepon (Telephone):
* (+6221) 3150451
* (+6221) 3150455
* (+6221) 3908119
* (+6221) 3908120

Copyright © 2014 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved

RSS Feed

Radikalisme Kristen Di Indonesia, Adakah?

image

Sebuah catatan pendek*

 

(*Sebagai bahan masukan dalam pertemuan Tim Kajian Radikalisme Keagamaan dan Pengaruhnya terhadap Kerukunan Umat Beragama, Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hubungan Antar Agama, Senin, 02 Mei 2011, pukul 09.30-12.00 WIB, di Kantor Dewan Pertimbangan Presiden, Jalan Veteran III No. 2, Jakarta 10110. Dua narasumber lainnya: Azyumardi Azra dan Sydney Jones.)

 

Oleh: Dr. Ioanes Rakhmat 

Saya mau menyoroti tiga kejadian di beberapa kota di Indonesia yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, yang langsung bisa dikaitkan dengan pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini.

 

Sebelum ke situ, arti “radikalisme” musti dipahami dulu.

Radikal, radix=akar!

Dalam dunia politik, radikalisme dapat dipahami sebagai suatu pemikiran atau suatu tindakan revolusioner yang langsung bersentuhan dengan “akar-akar” (Lain: radixradices) suatu persoalan dalam kehidupan suatu negara, yang ingin dicabut seluruhnya dan “pohon”-nya ditumbangkan. Ini yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai makar, yang dalam KBBI (edisi tiga) didefinisikan sebagai “perbuatan atau usaha menjatuhkan pemerintah yang sah”.

 

Dalam pandangan dunia keagamaan yang totalitarian (= menyatukan agama dengan politik), radikalisme religius menggiring orang beragama ke dalam suatu tindak kekerasan fisik, yang bertujuan makar, yakni menggulingkan suatu pemerintahan yang sah (yang dinilai sekular atau condong sekular) dan menggantikannya dengan suatu bentuk pemerintahan teokratis (= Allah sebagai pemerintah, lewat wakilnya di dunia yang dilantik-Nya) atau pemerintahan nomokratis (hukum-hukum Allah dalam suatu agama menjadi UUD suatu negara) .

 

Radikalisme religius juga berarti fanatisme atau ekstrimisme atau fundamentalisme, yang tidak bersifat totalitarian mutlak, namun juga bisa bermuara pada kekerasan, baik kekerasan fisik (physical violence), maupun kekerasan wacana verbal (discourse/verbal violence).

 

Kekerasan wacana ini muncul ketika seorang yang fanatik dengan agamanya sendiri  menyerang agama-agama lain dengan membabibuta dengan maksud menjatuhkan agama-agama lain itu, melalui ucapan-ucapannya, khotbah-khotbahnya, ajaran-ajarannya, atau tulisan-tulisannya yang tidak memiliki landasan akademik sama sekali, tetapi merupakan proganda-propaganda atau kampanye-kampanye “hitam” (black campaign) yang diarahkan kepada agama-agama lain yang tidak disukainya. Kekerasan wacana dari radikalisme religius kerap memicu kekerasan fisik yang dilakukan pihak umat beragama yang merasa diserang.  

 

Sekarang masuk ke tiga kejadian yang sudah disebut di atas.

 

 

Kerusuhan di Temanggung

 

Kejadian pertama adalah kerusuhan di Temanggung, Jawa Tengah, pada awal Februari 2011, yang dipicu oleh vonis hukuman penjara 5 tahun oleh Pengadilan Negeri Temanggung atas diri seorang pendeta yang bernama Antonius Rechmon Bawengan (asal Duren Sawit, Jakarta Timur).  

 

Sejak akhir Oktober 2010, Antonius telah menyebarkan selebaran dan buku (berjudul “Ya Tuhanku, Tertipu Aku!”) yang berisi penafsiran-penafsiran atas diri Nabi Muhammad dan atas simbol-simbol fisik yang melekat pada bangunan-bangunan suci umat Islam di Tanah Arab dan masjid pada umumnya. Kampanye hitam Antonius terus bergerak meluas, sampai memasuki kota Temanggung ketika selebaran dan bukunya masuk ke sebuah rumah seorang penduduk di kota ini pada tanggal 23 Oktober 2010, yang kemudian melaporkannya kepada polisi.

 

Kaum Muslim di Temanggung menilai vonis 5 tahun penjara itu terlalu ringan buat diri Antonius yang dinilai telah menista agama Islam. Banyak Muslim menghendaki dia dijatuhi hukuman mati. Ketidakpuasan atas keputusan hakim ini berbuntut pada kerusuhan, yang meluas sampai ke pusat kota.    

 

Pertanyaan: Apakah perbuatan Antonius ini sebuah bentuk radikalisme Kristen?  Jawaban: Ya, perbuatan Antonius adalah sebuah radikalisme Kristen yang diekspresikan dalam bentuk suatu kekerasan wacana verbal non-akademik, yang menyerang agama Islam, karena fanatisme, ekstrimisme dan kepicikannya dalam beragama. Kekerasan wacana verbal Antonius membuahkan kekerasan fisik yang dilakukan penduduk Muslim Temanggung.  

 

 

Demo 300 orang warga jemaat GKI Taman Yasmin

 

Pada hari Minggu, 17 April 2011, sebanyak 300 orang warga GKI Taman Yasmin Bogor (yang berlokasi di Jalan KH Abdullah Bin Nuh, kelurahan Curug Mekar, kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor) berdemonstrasi di depan Istana Negara di Jakarta, menuntut Presiden SBY untuk langsung menangani kasus yang sedang dihadapi jemaat GKI ini.

 

Dalam demo ini, Bondan Gunawan, mantan menteri Sekretaris Negara zaman pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, antara lain menyatakan, “Mari kita lawan pejabat yang melawan Konstitusi. Mari kita lawan dengan kasih.” dan “Selama kekerasan atas nama agama terjadi, selama itu pula kita akan bereaksi.”

 

Apa yang telah menggerakkan mereka melakukan demo di depan Istana Negara itu, demo yang mungkin pertama kali dilakukan sebuah gereja Kristen di Jakarta demi membela kepentingan mereka sendiri?

 

Persoalannya: pemerintah Kota Bogor (dalam hal ini, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor) mencabut IMB bangunan gereja GKI Taman Yasmin sehingga warga gereja ini tidak bisa beribadah di dalam gedung gereja mereka yang telah disegel. Padahal, gereja ini sudah memiliki Keputusan Mahkamah Agung (No. 127 PK/TUN/2009) yang mengukuhkan keabsahan IMB yang mereka miliki. Sengketa di sekitar masalah IMB ini sendiri sudah berlangsung sejak Februari 2008.

 

Meskipun sudah memiliki Keputusan MA itu, Pemkot Kota Bogor tetap berkeras tak mengizinkan mereka beribadah kembali di gedung gereja mereka; bahkan pengajuan peninjauan kembali keputusan MA itu, yang diajukan Pemkot Kota Bogor, ditolak oleh MA.

 

Penduduk Muslim di sekitar lokasi bangunan gereja itu menuduh bahwa GKI Taman Yasmin ini  sedang menyebarkan agama Kristen ke penduduk sekitar, sehingga mereka menolak keberadaan gereja ini.    

 

Apakah demo ini suatu radikalisme Kristen yang dilakukan warga GKI Taman Yasmin?

 

Jika “radikalisme” dipahami sebagai suatu usaha menggali sampai ke akar-akar (radix) masalah yang dihadapi, ya… warga GKI Taman Yasmin, yang didukung oleh Forum Bhinneka Tunggal Ika, menuntut akar yang menumbuhkan persoalan mereka dibereskan, yakni tidak adanya kepastian dan efektivitas hukum positif di Indonesia, yang sepatutnya ditegakkan oleh semua penyelenggara negara. Jadi, dalam arti ini, mereka radikal rasional.

 

Mereka tidak bisa menerima, kalau hukum positif di Indonesia dipermainkan oleh Pemkot Kota Bogor, sekalipun Pemkot ini beralasan bahwa penduduk Muslim sekitar bangunan gereja mereka tidak mendukung keberadaan GKI Taman Yasmin di tengah mereka, yang dicurigai sebagai pusat kristenisasi di kawasan./1/

 

Apakah mereka radikal, dalam arti mereka memakai kekerasan fisik untuk memperjuangkan kepentingan mereka? Sama sekali tidak! Demo mereka berlangsung damai dan tenang.

 

Apakah mereka radikal karena memakai kekerasan wacana, dengan menghina agama Islam atau kaum Muslim yang menjadi penduduk di sekitar lokasi gereja mereka? Tidak juga. Ucapan Bondan Gunawan yang sebagian telah dikutip di atas sama sekali tak mengandung kekerasan wacana yang diarahkan kepada siapapun. Dia hanya mau Konstitusi ditegakkan, kekerasan atas nama agama diakhiri, dan ketidakberesan dalam negara ini harus dihadapi dengan tindakan yang dijiwai cinta kasih.  

 

Cinta kasih memang dapat dengan mudah menjadi sebuah klise.

 

Dapat diperkirakan, antipati kaum Muslim terhadap warga GKI Taman Yasmin tampaknya akan makin bertambah, khususnya pasca-demo 300 warga GKI ini di depan Istana Negara, kendatipun gereja ini mendapatkan pembenaran hukum dari MA sehubungan dengan keabsahan IMB mereka.

 

Pertanyaannya: Apakah semua warga GKI Taman Yasmin masih akan tenteram dalam mereka beribadah, jika mereka akhirnya menang secara hukum (karena Presiden SBY turun tangan langsung!), namun makin sangat dibenci oleh lingkungan sekitar mereka?

 

Banyak warga masyarakat Indonesia, dari semua agama, masih tak perduli pada kekuatan hukum positif. Mereka lebih memilih taat kepada hukum-hukum yang lain, khususnya kepada hukum agama mereka dan kepada apa kata pemuka-pemuka agama mereka. Ini adalah sebuah akar persoalan dari banyak konflik keagamaan di Indonesia.    

 

 

Jakarta dan Surabaya “for Jesus”

(Dua konferensi Gereja Mawar Sharon di Jakarta dan di Surabaya)

 

Pada tanggal 26-27 April 2011, Gereja Mawar Sharon melaksanakan konferensi dan kebaktian kebangunan rohani (KKR) “Jakarta for Jesus” di Central Park Mall, Podomoro City, Jalan S. Parman Kav 28, Jakarta Barat, dengan tema “Rasing Up A New Revival Generation”.

 

Sesudah itu, konferensi dan KKR sejenis, “Surabaya for Jesus”, dilaksanakan oleh gereja yang sama di Jalan Cempaka 18i, Surabaya, dengan tema “Membangun Gereja Yang Memenangkan Kota”, tanggal 29-30 April 2011.

 

Iklan-iklan kedua kegiatan di atas, antara lain berupa dua tayangan video di youtube di Internet (http://youtu.be/Sy8wwW75xzE, danhttp://youtu.be/wpzdUWvBmLE), dapat diakses semua orang dari segala tempat di muka Bumi.

 

Dalam iklan-iklan itu, setiap orang dapat mendengar dan membaca banyak hal yang diungkap para pemimpin gereja ini (termasuk beberapa pemimpin gereja Masa Depan Cerah/MDC), baik yang di Jakarta maupun yang di Surabaya.

 

Mereka antara lain menyatakan tujuan mereka untuk “membawa perubahan baru bagi bangsa Indonesia”, “mengubah bangsa Indonesia”. Mereka mengklaim telah berhasil mengkristenkan 35 ribu orang Indonesia (tak jelas, dari agama semula apa, atau dari suku bangsa apa) selama 2000-2003, dan dari antaranya 9000 orang masuk ke gereja mereka sehingga anggota gereja ini berkembang menjadi puluhan ribu orang dalam waktu yang singkat.

 

Dari tema-tema yang dipakai, dari khotbah-khotbah yang disampaikan, dan dari iklan-iklan yang ditayangkan, jelas tampak bahwa motivasi mereka adalah mengkristenkan Indonesia, secara bertahap, mulai di Jakarta, lalu ke Surabaya, dan tentu bisa diperkirakan akan masuk juga ke kota-kota besar (pusat bisnis) di Indonesia. Jakarta menerima Yesus, lalu Surabaya menerima Yesus! Lalu Indonesia mereka akan ubah. Itu semua impian mereka, yang, kata mereka, diilhamkan oleh Allah!

 

Lepas dari fakta apakah mereka nanti akan bisa membuktikan ucapan-ucapan mereka (yang terdengar sangat bombastis!) bahwa Indonesia akan bisa mereka ubah, khususnya generasi muda Indonesia, jelas sekali bahwa mereka mengantisipasi (atau terus mendoakan) suatu Indonesia yang Kristen.

 

Tentu bukan hanya Gereja Mawar Sharon yang mempunyai visi dan misi pengkristenan Indonesia semacam itu. Gereja-gereja pentakostal revivalistik di Indonesia umumnya memang banyak mengangkat tema-tema sejenis, dengan sama bombastisnya.

 

Pertanyaannya: Apakah gereja-gereja sejenis Gereja Mawar Sharon termasuk gereja-gereja yang radikal?

 

Ya, mereka radikal dalam wacana. Merencanakan mengubah Indonesia yang sekarang ini dihuni oleh mayoritas orang Islam (85 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar 240 juta orang), menjadi suatu negara Kristen, adalah suatu wacana yang radikal. Karena seandainya wacana ini mereka berhasil kongkretisasi, maka yang lebih mungkin memimpin negara Indonesia dalam kehidupan politik dan ekonomi di masa depan adalah orang Kristen, bukan lagi Muslim. Jika ini terjadi, ini adalah suatu perubahan yang radikal, dibandingkan dengan kondisi riil sekarang ini.  

 

Apakah mereka memakai kekerasan wacana? Bagi kaum Muslim Indonesia, tentu saja wacana-wacana yang gereja-gereja semacam ini angkat dan sebarkan terdengar sangat keras dan mengancam, meskipun tentu saja dalam kerangka realitas sosiologis dan politis masa kini, wacana-wacana mereka akan tetap sebagai wacana-wacana yang mengawang-awang di angkasa.

 

Bagaimanapun juga, saya ingin tegaskan, bahwa wacana-wacana bombastis semacam ini hanya memperburuk citra umat Kristen di Indonesia secara keseluruhan, yang sebenarnya sebagian besar dari mereka tak pernah bermimpi untuk mengubah Indonesia menjadi suatu negara Kristen.

 

Apakah gereja-gereja sejenis Gereja Mawar Sharon memakai kekerasan fisik? Tidak, sampai sejauh ini. Namun, kekerasan wacana kadang kala jauh lebih menyakitkan dan lebih berbahaya ketimbang kekerasan fisik yang sekali-sekali terjadi.

 

Penutup

 

Harus disimpulkan, bahwa dalam kekristenan di Indonesia radikalisme keagamaan dapat ditemukan. Namun umumnya bukan radikalisme yang bertujuan makar atau yang memakai kekerasan fisik dalam perjuangan kaum Kristen radikal ini, melainkan radikalisme yang mereka ekspresikan dalam kekerasan wacana yang telah terbukti dapat memicu reaksi balik dari kalangan umat beragama lain, khususnya kaum Muslim, dalam bentuk tindak kekerasan fisik.

 

Kalaupun ada gereja-gereja Kristen di Indonesia yang terang-terangan menebar wacana pengkristenan Indonesia, visi dan misi pengkristenan ini disebarkan dan diwacanakan selama ini melalui kegiatan-kegiatan kebangunan rohani dan pembinaan warga gereja, yang lebih bersifat internal.

 

Tetapi sekarang ini, kegiatan-kegiatan ini yang diiklankan lewat Internet sudah bukan lagi suatu kegiatan internal gerejawi, tetapi sudah menjadi suatu kegiatan yang terbuka untuk umum tanpa batas, menjangkau seluruh Indonesia dan dunia. Dampaknya tentu akan semakin luas dan hebat, sekaligus akan sangat mengganggu kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

 

Usaha-usaha politis dan legal untuk mengkristenkan Indonesia secara sistimatis sampai sejauh ini tidak terlihat, meskipun pernah ada suatu usaha menjadikan Injil Kristen sebagai suatu landasan hukum dalam pemerintahan daerah di sebuah provinsi di Indonesia bagian timur.

 

Kalaupun pengkristenan Indonesia yang mau dilakukan oleh kelompok-kelompok Kristen radikal tertentu di Indonesia dapat juga akan menjadi suatu kegiatan radikal mengganti seluruh sistem pemerintahan di Indonesia dengan suatu bentuk pemerintahan Kristen, cita-cita ini harus dinilai sebagai mimpi kosong di siang bolong.

 

Para penganjur visi dan misi pengkristenan seluruh Indonesia ini lebih tepat dipandang sebagai orang-orang yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi lain yang sifatnya mungkin material, yang mau dicapai melalui kegiatan-kegiatan “kerohanian”. Jangan terlalu serius dengan mereka.

 

Catatan

/1/ Sudah lama beredar desas-desus di luar, dan juga selama percakapan informal di luar pertemuan di gedung Dewan Pertimbangan Presiden tersebut di atas, bahwa penduduk di sekitar bangunan gedung gereja GKI Taman Yasmin, yang hampir semuanya santri, tak pernah secara resmi menyatakan dukungan mereka terhadap  pembangunan gedung gereja GKI Taman Yasmin ketika gedung ini mau dibangun. Mereka tak tahu dari mana GKI Taman Yasmin bisa mendapatkan dukungan tertulis dari penduduk sekitar. Berita semacam ini menunggu verifikasi resmi yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat. Saya juga mendengar sebuah kabar bahwa sangat mungkin Pemkot Kota Bogor akan membiarkan kasus GKI Taman Yasmin dalam status quo, karena berkaitan dengan kepentingan suksesi personalia  birokratis administratif tertentu Pemkot dalam waktu dekat ini.

 

Lampiran

 

Dalam 107 komentar di Facebook saya (dengan jumlah friend 3566 orang/nama), yang tercatat pada pukul 24:06, 02 Mei 2011, diungkap bahwa radikalisme Kristen dapat muncul di Indonesia karena:

 

  1. Benturan antar fundamentalisme keagamaan;
  2. Saling curiga bahwa Indonesia mau dijadikan negara teokratis (Islami atau Kristiani);
  3. Lenyapnya semangat hidup “bhinneka tunggal ika”;
  4. Umat Kristen dan umat Islam sudah banyak saling melukai dalam sejarah dan di masa kini;
  5. Pemerintah telah mengabaikan tugas mereka di bidang hukum dan keamanan;
  6. Eksklusivisme sosial-religius yang menimbulkan jarak sosial dan kerentanan terhadap provokasi;
  7. Ketidakpekaan terhadap isu-isu sosial dalam masyarakat masa kini;
  8. Banyak kekerasan dalam bidang-bidang lain di negara ini, bukan hanya dalam bidang keagamaan;
  9. Kesalahan membawa nama Kristen dalam usaha memerangi radikalisme Islam;
  10. Ketidakdewasaan mental orang Kristen dalam menyikapi berbagai persoalan sosial;
  11. Penolakan orang Kristen terhadap pluralisme dan dialog antar-agama;
  12. Orang Kristen mau memprovokasi umat beragama lain;
  13. Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa telah ditinggalkan;
  14. Marjinalisasi orang Kristen di Indonesia;
  15. Reaksi nekad orang Kristen terhadap radikalisme Islam;  
  16. Oknum-oknum berkedok Kristen sedang memperjuangkan kepentingan lain mereka sendiri;
  17. Tidak adanya rasa aman dalam diri orang Kristen;
  18. Gereja tak mau berdiplomasi dan mengatur ulang posisi mereka;
  19. Kebodohan masih dijumpai dalam diri banyak orang Kristen dan para pemimpin mereka;
  20. Beban perang salib yang masih dipikul hingga sekarang;
  21. Persaingan keras antar klaim kebenaran dari masing-masing umat beragama;
  22. Penafsiran yang salah atas teks-teks kitab suci;
  23. Tidak adanya mata pelajaran bagaimana beragama secara kontekstual Indonesia;
  24. Tidak adanya kepastian hukum positif di Indonesia;
  25. Pemahaman yang parsial atas agama sendiri dan agama orang lain;
  26. Ajaran-ajaran dalam agama Kristen yang sudah tak relevan untuk masa kini;
  27. Umat Kristen yang minoritas ditekan;
  28. Kekerasan wacana gereja yang dibalas dengan kekerasan fisik oleh umat beragama lain;
  29. Semangat triumfalisme Barat dalam kehidupan orang Kristen di Indonesia;
  30. Pencucian otak orang Kristen oleh para pemimpin mereka sendiri;
  31. Orang Kristen radikal dijadikan alat pengalih isu-isu sosial-politik lain;
  32. Orang Kristen membela diri;
  33. Berstatus sebagai kelompok mayoritas;
  34. Filsafat “si vis pacem para bellum” (= barangsiapa ingin perdamaian, harus bersedia perang);
  35. Tidak paham substansi dasar ajaran kekristenan;
  36. Etika negara beradab tidak ditegakkan;
  37. Kepemimpinan negara yang lemah dan tak punya komitmen di bidang hukum;
  38. Masalah ekonomi;
  39. Radikalisme juga menjadi bagian tak terpisah dari setiap ajaran agama;
  40. Semangat revivalistik dalam diri orang Kristen;
  41. Penghayatan berlebihan atas misi pengkristenan dunia;
  42. Sebagai ekspresi wacana verbal;
  43. Premanisme bertato Kristen;
  44. Persaingan memperebutkan anggota baru antar agama;
  45. Memerangi kemiskinan dan penderitaan sebagai suatu bentuk radikalisme Kristen;
  46. Pemujaan pada hal-hal lahiriah, jasmaniah dan simbolis dalam beragama;   
  47. Intrik-intrik politik yang memprovokasi orang Kristen sehingga menjadi radikal.

Wed, 4 May 2011 @08:53


2 Komentar
image

Tue, 10 May 2011 @10:41

widowati

hal ini memang sedang menjadi permasalahan riil di Indonesia. memang hak setiap orang untuk memahami dan memaknai Firman Tuhan sesuai dengan imannya dan juga untuk membagikan hal tersebut kepada orang lain. tetapi hak setiap orang juga untuk menerima berita yang baik dan benar yang menyejahterakan dan ini berarti kewajiban bagi orang yg ingin berbagi pemahaman tersebut. dan juga kewajiban setiap orang utk tidak menelan mentah2 segala yg dibaca dan didengar dan dilihat tetapi mengunyahnya lebih dahulu .

image

Mon, 16 May 2011 @21:09

Nila

Cerdik seperti ular tulus seperti merpati,lakukan dgn doa.. tdk perlu makar tdk perlu radikal


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+7+4