Yap Thiam Hien: Pembela Kaum Lemah

image

YAP THIAM HIEN: PEMBELA KAUM LEMAH

Andreas A. Yewangoe

 

I.  Pembuka

Kendati saya tidak pernah secara pribadi bertemu dengan Yap Thiam Hien, dan karena itu tidak mungkin dapat memberikan sebuah gambaran yang menyeluruh mengenai kehidupan dan kiprahnya, tidak dapat disangkal bahwa dialah seorang pembela yang gigih terhadap kaum lemah melalui profesinya sebagai Pengacara. Yang dimaksud dengan kaum lemah adalah siapa saja yang tidak berdaya baik secara ekonomis mau pun politik. Maka pantaslah dalam memorial lecture ini kita bukan sekadar mengingat, tetapi mengangkat kembali dan membawa ke dalam praksis berbagai hal yang telah beliau lakukan, terutama di dalam masyarakat kita sekarang ini yang cenderung mengarahkan perhatian dan minat hanya kepada kepentingan diri dan golongan sendiri. Pada tahun 1990 oleh Penerbit Sinar Harapan diterbitkan sebuah buku kenangan yang disunting oleh T.Mulya Lubis  dan Aristides Katoppo berjudul, Yap Thiam Hien, Pejuang Hak Azasi Manusia (Jakarta, 1990). Judul ini sendiri telah menyimpulkan dengan tepat siapa Yap Tiam Hien dan apa saja cita-cita dan perjuangannya. Sejauh yang saya ikuti, tulisan-tulisan Yap Thiam Hien sendiri agak jarang. Namun dengan membaca kesan-kesan banayak orang mengenai dia, mudah-mudahan kita sedikit mengenal sosok manusia legendaris ini.

 

II.  Beberapa Catatan Biografis

Yap Thiam Hien dilahirkan di Koeta Raja-Aceh, 25 Mei 1913. Wafat di Brussel, Belgia pada 25 April 1989 dalam usia 75 tahun. Pengara keturunan Tionghoa dan biasa dipanggil “John” ini dibesarkan di dalam lingkungan perkebunan yang sangat feodalistik. Karena itu sedari mudanya ia telah mempunyai sifat “pemberontak” terhadap segala sesauatu yang dilihatnya sebagai kesewenang-wenangan.

Ia belajar di Europesche Lagere School (Banda Aceh), kemudian melajutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) (juga di Aceh). Memasuki AMS jurusan AII dengan program bahasa-bahasa Barat (di Bandung dan Yogyakarta). Lulus tahun 1933. Pada tahun 1938 Yap memeluk agama Kristen (Protestan) sebagai hasil perkenalanannya dengan sebuah keluarga Indo di Yogyakarta. Ia menjadi guru setelah tamat dari Holands-Chineesche Kwekschool di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara). Kemudian ia terus berkiprah sebagai guru di Wilde Schoolen (artinya yang tidak diakui Pemerintah Belanda) Chineesche Zendingschool di Cirebon. Lalu di Rembang (juga Chinees School), Christelijke School di Batavia (sekarang Jakarta). Sejak tahun 1938 menjadi pencari langganan telpon, bekerja di Kantor Asuransi Jakarta dan di Balai Harta Peninggalan Departemen Kehakiman (1943). Selanjutnya mendaftar di Rechts Hoge School di Leiden, memperoleh gelar Meester in de Rechten (1946). Selama di negeri Belanda tinggal di Zendingshuis, milik Raad van de Zending der Nederlandsch Hervormde Kerk di Oegstgeest.

Dalam kiprahnya sebagai pengacara, ia, pada tahun 1948/1949 khusus melayani warga keturunan Tionghoa. Pada tahun 1950 membuka Kantor Pengacara bersama Mochtar Kusumaatmadja. Selanjutnya ia ikut serta mendirikan Baperki, yang mengantarnya menjadi anggota Konstituante (1955). Belakangan ia keluar dari Baperki karena perbedaan pendapat dengan Siauw Giok Tjhan, yang dianggapnya kekiri-kirian. Ia seorang Kristen yang saleh sebagaimana terefleksi dari seluruh hidup dan kiprahnya. Ia pun sangat memahami pentingnya pendidikan tinggi. Karena itu ia ikut berprakarsa mendirikan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Ia ditipekan sebagai seorang triple minority (Tionghoa, Kristen dan jujur) oleh Harry Tjan Silalahi.

 

III. Kegiatan

Sebagai seorang pengacara ia tidak melihat profesi itu sebagai “ladang” memperoleh keuntngan materi. Sebaliknya ia meyakininya sebagai sebuah pelayanan, khususnya bagi mereka yang lemah. Maka di era Sukarno misalnya ia menyerukan pembebasan terhadap sejumlah tahanan politik (Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Mochtar Lubis, Sutan Syahrir, Haji Princen, Soebadio). Di era Suharto ia membela para Tapol dengan menyerukan agar mereka dibebaskan dan hak-hak asasi mereka dihormati. Ia membela Subandrio yang terancam hukuman mati dan kental nuansa politiknya. Pembelaan itu diyakini banyak orang sebagai salah satu pembelaan yang brilyan, sangat akademis, meyakinkan dan penuh pelajaran bagi yang ingin memahami profesi pengacara secara benar. Ia pun tampil membela para aktivis mahasiswa (setelah peristiwa Malari). Demikian juga mereka yang terlibat dalam peristiwa Tanjung Priok dibelanya. Mereka yang telah berada di dalam penjarapun dibelanya agar diperlakukan secara baik dan manusiawi, misalnya dengan menyediakan makanan yang layak, dan seterusnya.

Sebagai seorang pengacara tentu saja ia ingin kliennya dimenangkan. Tetapi di dalam kenyataannya tidak selalu hal ini terjadi. Karena itu ada yang mengatakan, apabila anda ingin kalah, pilihlah Yap Thiem Hien sebagai pengacara. Kendati demikian, hal yang paling mendasar baginya adalah agar kebenaran diperlihatkan melalaui proses pengadilan yang fair. Ia tidak ingin terjerumus ke dalam perangkap calo hukum Sebaliknya ia sangat konsisten membela keadilan dengan memacu dirinya bukan sekadar menjadi good lawyer, melainkan juga great lawyer.

Ada 3 komitmen besar yang tetap diperjuangkan Yap Thiam Hien hingga akhir hayatnya, yaitu terhadap Negara Hukum (Rechtsstaat), terhadap tegaknya keadilan (justice/rechtsvaardigheid), dan terhadap hak-hak asasi manusia (human rights/mensen rechten).

Ia pun seorang anti ras diskriminasi. Pada 10 Desember 1988 ia menantang pernyataan seorang tokoh pemerintahan yang tidak percaya kepada konsep HAM yang universal karena perbedaan status antara warganegara asli dan warga negara keturunan. Yap mengatakan: “Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan warga negara asli mau pun keturunan karena jika dilihat dari asal usul, bangsa-bangsa Asia Tenggara yang merupakan Indo China memiliki nenek moyang yang berasal dari provinsi Yunan, Cina bagian selatan. Jadi warga negara Indonesia dengan ras Melayu sama-sama berasal dari Cina.”

 

IV. Beberapa Catatan Teologis

Saya tidak tahu persis bagaimana Yap Thiam Hien mengutarakan penghayatan imannya dalam tulisan. Dari beberapa tulisan yang sempat dihimpun, misalnya yang ditulis pada 17 Mei 1960, kita bisa menemukan “jejak-jejak” pemikiran teologi (walaupun tidak eksplisit) Yap Thiam Hien. Dalam diskusinya mengenai persoalan minoritas, ia menegaskan bahwa persoalan itu tidak disebabkan oleh ‘productie verhoudingen’, juga bukan oleh perbedaan-perbedaan badani dan/atau cultural. Persoalannya, katanya terletak pada ‘human relations’, ialah interrelation antara ‘dominant group’ dan minoriteit yang dipenuhi oleh prejudice…. Maka masalah minoritet pada hakekatnya adalah masalah manusia sendiri, ‘the problem of man’, yaitu bagaimana manusia memandang dan memperlakukan sesamanya manusia. Ia lalu memberikan diagnose: “Jiwa manusia sakit. Bukan struktur manusia yang salah, bukan perbedaan-perbedaan physic atau kulturil yang salah melainkan manusia sendiri yang salah.” Sebagai therapy, Yap menganjurkan: 1. Bukan ‘brain-washing’ melainkan ‘heart-cleansing’; 2. Bukan perubahan struktur masyarakat melainkan perubahan ‘inenshechotiwing yang materialistic dan homo-sentrik menjadi Christocentris; 3. Bukan penghapusan perbedaan-perbedaan physik atau cultural, melainkan penghapusan prejudice, egoism dan hypocrisy; 4. Supaya tidak lagi menjadi ‘dominant group’ melainkan ‘dienede elite’; bukan retooling of man, tetapi rebirth of man in Jezus Christ dengan cara-cara lain yang telah kami kemukakan lebih dahulu dalam ‘therephy II”

Dari catatan yang sangat singkat ini kita bisa melihat perlawanannya terhadap faham komunisme yang mendegradasi relasi-relasi kemanusiaan sebagai sekadar relasi alat-alat produksi untuk pada akhirnya terperangkap dalam sistem berpikir dan bertindak materialitik. Sekaligus ia juga menghantam sistem kapitalisme yang menjadikan pemuasan material sebagai tujuan (kita teringat akan tulisan Adam Smith, The Wealth of Nations). Ia pun membantah pandangan humanisme yang melihat manusia sebagai pusat. Karena itu ia membela suatu pembersihan hati (heart-cleansing) ketimbang cuci otak (brain washing) yang sangat lazim di dalam sistem komunisme. Sebagai ganti ‘humancentris’ itu ia mengusulkan Christocentrik. Di sini kita melihat jejak-jejak yang sangat jelas dari Calvin(isme) yang menjadikan Kristus sebagai pusat iman dan tindak setiap umat beriman. Kristus sebagai Pelayan Agung memperlihatkan teladan bagi umat-Nya untuk juga mengikuti jejak-Nya sebagai pelayan. Maka bagi Yap, itulah alasannya suatu grup tidak boleh menjadi kelompok yang dominan, melainkan sebagai elite yang melayani (dienede elite). Seseorang yang mau mengalami pembaruan harus dilahirkan kembali di dalam Yesus Kristus (ini sangat lazim di dalam pandangan Injili), bukan sekadar retooling of man. Pemakaian istilah ‘retooling’ oleh Yap memperlihatkan ketidaksetujuannya kepada konsepsi Presiden Sukarno yang sangat gemar memakai (dan mempraktekkan) ‘retuling’ terhadap siapa saja yang tidak disukai di era Orde Lama itu.

Dengan menolak perubahan struktur masyarakat, Yap tidak memprediksikan perdebatan yang belakangan muncul, bahwa pertobatan tidak cukup dilakukan hanya sebagai akta pribadi, melainkan juga sebagai suatu pembaruan struktural, sebab dosa-dosa pun sudah sangat kental teranyam dan menempel dalam struktur yang menindas. Dalam suatu struktur di mana oppressor-oppressed axis menguasai, maka memang tidak cukup suatu pertobatan pribadi, melainkan juga suatu tranformasi total dari sumbu penindas-tertindas itu. Tentu saja Yap tidak bisa disalahkan dalam hal ini, sebab ia pun anak dari zamannya.  Di masa hidupnya agaknya ia kurang familiar dengan teologi-teologi pembebasan yang sangat marak di Amerika Latin, tetapi yang belakangan juga menyebar ke seluruh dunia (ketiga).

Hal yang sangat menonjol pada Dr. Yap adalah keberpihakannya kepada yang lemah. Bahkan inilah ciri khas Yap. Dalam suatu penganugerahan The William J. Brennan Jr dari Rutgers University, New Jersey karena dedikasinya dalam membela hak asasi maanusia dan menegakkan rule of law, Richard D.Singer, dekan Rutgers School of Law-Camden menyampaikan kesannya sebagai berikut: “He is one of the great lawyer of the world. He could have had a comfortable, highly lucrative career. Dr Yap chose otherwise. He chose a path of struggle; he chose a path of sacrifice. He decided to live dangerously.” Inilah “Christian spirit’ yang yangsangat mempengaruhi Yap Thiam Hien. Di dalam Alkitab kita bertemu dengan sekian banyak ceritera yang menegaskan betapa Allah memihak mereka yang lemah. Pemihakan itu bukanlah karena mereka yang lemah itu tidak berdosa. Tetapi karena mereka begitu lemah, maka mereka tidak sanggup membela dirinya. Para pembela cenderung berpihak kepada yang kuat, baik secara finansial mau pun pengaruh. Maka Allah memihak mereka dan bertindak sebagai Pembela. Itulah inti perbuatan Kristus yang mengurbankan diri-Nya agar dengan demikian membela yang lemah. Inilah wujud compassion, yang menurut Karen Arsmtrong (lihat bukunya Twelve Steps to Compassionate Life) bukan sekadar belas kasihan, melainkan juga ikut menderita, bahkan memikul konsekwensi dari keberpihakan itu. Maka kepada setiap pengikut Kristus diminta melakukan seperti yang dikerjakan Kristus itu (bdk.Mt.25). Saya menduga, Dr Yap sangat dipengaruhi oleh sikap bela-rasa ini. Dari berbagai kesaksian para sahabatnya, sebagaimana dituliskan dalam buku yang disebutkan di atas, kita mendapat kesan, bahwa Kasih itulah yang sangat mempengaruhi seluruh kehidupan dan perilakunya. “Jiakalau aku berkata dengan segala bahasa manusia dan malaikat sekalipun, tetapi aku tidak menaruh kasih, niscaya aku sudah menjadi gong tak berbunyi atau genta yang gemerincing.” (dikutip dari Rasul Paulus oleh Haji Prinsen dalam buku kenangan itu). Sebagai seorang lawyer, Dr Yap saya duga tidak merasa pada hanya dengan menerapkan isutitia distributiva (keadilan yang membagi-bagi sesuai dengan kesanggupan!) Tetapi seperti Allah, ia mengamalkan suatu iustitia creativa, keadilan yang menciptakan ruang dan kemungkinan, sehingga yang lemah memperoleh kekuatan untuk tampil dan memperlihatkan dirinya.

Saya kira Dr Yap Thiam Hien tidak mampu menekan suara hatinya untuk menyatakan kebenaran. Ia tidak mau suara hati itu menuduhnya terus-menerus. Bismar Siregar mengatakan, Dr Yap adalah seorang yang konsisten untuk (dengan mengutip ayat Alkitab), “mengatakan ya di atas yang ya dan tidak di atas yang ‘tidak.’

Demikianlah beberapa catatan saya.

 

___________________________________

*) Disampaikan Dalam Yap Thiam Hien Memorial Lecture, pada 14 Juni 2011 di UKI Jakarta.

**) Ketua Umum PGI.

 

                                                                                            Jakarta, 14 Juni 2011

Mon, 20 Jun 2011 @13:08


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno