Spiritualitas Yap Thiam Hien

image

Upacara di depan altar bukan tanda spiritualitas seorang, tetapi praksis iman di tengah orang terkapar

Pendahuluan

Yap adalah sosok orang yang pernah aktif dalam gereja, baik di tengah Jemaat, Sinode GKI, Dewan Gereja-gereja di Indonesia ( DGI/PGI) dan Dewan Gereja-gereja Se-Dunia (World Council Of Churches/WCC). Kiprah dan pikirannya kurang mendapat sorotan dari lembaga Gereja di mana ia bergabung dan melayaninya. Kiprah Yap di tengah perjuangan menegakkan HAM sering hanya dilihat sebagai seorang ahli hukum. Padahal kalau kita simak lebih jauh, kiprah Yap tidak lepas dari praksis imannya. Iman kepada Yesus Kristus bagi Yap tidak cukup hanya dipraktekkan dalam gereja. Terlalu sempit dan naif apabila praksis iman hanya dipraktekkan dalam gedung gereja dalam upacara ibadah. Kalau Yap banyak berkiprah di antara orang terkapar, ini tak berarti bahwa ia mengabaikan rumah ibadah. Ia tak mau dikungkung oleh rumah ibadah. Ia tak segan menegur pendeta dan pemimpin gereja yang bersikap tidak sesuai dengan Firman dan kebenaran.

Spiritualitas adalah semangat dan kekuatan yang memberdayakan seseorang untuk tahan uji dalam praksis imannya. Tanpa spiritualitas seseorang akan mudah gugur dan loyo dalam menjalankan visi dan misi yang ia emban. Kebiasaan orang datang ke rumah ibadah untuk mengucapkan doa dan mantera bukan jaminan seseorang memiliki spiritualitas iman. Upacara di depan altar sering menjadi kebencian bagi Tuhan karena dilakukan untuk menutupi kemunafikan seseorang. Kitab Amos dan Yesaya dengan suara lantang mengkritik praktek ibadah dari umat Israel. Ibadah yang benar adalah melepaskan rantai penindasan dan ketidakadilan. Dan spiritualitas semacam itulah yang telah dijalani oleh Yap.

 

Melampaui dan Menembus Zaman

Yap boleh dikatakan sosok yang melampaui dan menembus zamannya. Ia merupakan sosok yang tersingkir karena pemikiran dan kiprahnya saat ia hidup. Seseorang yang keluar dari kungkungan zamannya (karena tidak tunduk pada penguasa) dalam kitab suci biasanya disebut nabi. Kiprah dan pemikiran Yap mencerminkan pemikiran dan kiprah seorang nabi yang sulit dimengerti dan sering mengakibatkan konflik dengan pihak penguasa. Seorang nabi biasanya memiliki sikap jujur, pemberani, tanpa pamrih dan taat pada Allah yang mengutusnya. Sikap jujur dan pemberani adalah sikap yang sering dimusuhi penguasa yang korup. Harry Tjan menyebut Yap seorang triple minoritas karena Yap adalah seorang keturunan Tionghoa, seorang Kristen dan seorang jujur serta berani.

Ketika Yap harus berbeda pendapat dengan Bung Karno dan Baperki (Badan Permusywaratan Kewargangeraan Indonesia) serta PKI soal kembali ke UUD 1945, ia memberikan kritik sebagai berikut:

1. Bukan "brain-washing″ melainkan ″heart-cleansing" 2. Bukan perubahan struktur masyarakat melainkan perubahan " in` ensheschotiwing yang materialistis dan homo-centris menjadi Christocentris. 3. Bukan penghapusan perbedaan-perbedaan fisik atau kultural, melainkan penghapusan prejudice, egoisrne, dan hypocrisi. 4. Supaja tidak lagi mendjadi ″dominant group″ melainkan ″dienede elite″ 5. Bukan “retooling of man”, tetapi “rebirth of man in Jesus Christ.  (Star Weekly 17 Mei 1960)

Yap tidak segan-segan mengutip Kitab Suci dan ajaran Kristen dalam pembelaannya dan pandangannya tentang masalah hukum dan kenegaraan. Ketika ia membela dr. Subandrio menteri luar negeri pemerintahan Soekarno, Yap mengutip ayat-ayat Injil dalam pembelaannya. Dalam soal pencucian otak yang dilakukan oleh banyak pihak pada zaman Bung Karno, Yap melawan ide brain washing dan ia menawarkan “heart cleansing“ sebagai gantinya. Yap lebih menekankan perubahan hati dan karakter manusia dalam pembangunan bangsa bukan sekedar cuci otak. Bukan retooling of man, tetapi “rebirth of man in Yesus Christ“. Perubahan hati dan karakter jauh lebih penting dari pada sekadar penggantian kedudukan orang atau cuci otak. Yap mengingatkan rekan-rekannya supaya jangan berfokus pada “materialistis dan homo centris“, tetapi ia menawarkan fokus lain, yaitu: “ Christocentris.“ Yang dimaksud Yap dengan Christocentris adalah keteladanan Kristus yang melampaui batas batas keagamaan, dan kesukuan dalam mengasihi sesama manusia. Yesus yang memiliki keberanian, kejujuran, cinta kasih dan pengorbanan diri. Christocentris merupakan lawan dari masyarakat materialistis yang mengabaikan kemanusian dan hak asasi manusia. Yap tidak bermaksud untuk memaksakan sebuah masyarakat Kristen seperti di Eropa karena Yap menyadari realitas masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk. Di tengah kemajemukan itulah Yap tidak setuju adanya dominasi mayoritas (agama dan etnis) atas kelompok minoritas. Yap menolak kebudayaan yang dominan yang memaksa budaya minoritas melebur dalam dirinya. Dia menolak pandangan Siauw Giok Tjhan pemimpin Baperki yang ingin menyelesaikan masalah diskriminasi minoritas Tionghoa dengan jalan perombakan ekonomi, yaitu menuju masyarakat sosialis yang ditawarkan Soekarno dan PKI. Tetapi Yap juga menolak jalan yang ditempuh oleh kelompok sepuluh (pendukung asimilasi budaya dan perkawinan) yang mengharuskan budaya minoritas meleburkan diri dalam budaya mayoritas. Yap menghargai setiap budaya memiliki kesetaraan dalam berbangsa dan bernegara. Bukan perubahan fisik dan budaya yang harus ditanggalkan, tetapi sikap egois, serakah, prasangka dan munafik. Pada waktu Pentakosta pertama semua orang berbicara menurut bahasa masing-masing (Kisah 2). Mereka tak dipaksa berbahasa Yunani maupun Ibrani. Dalam berjuang Yap melampaui batas ikatan etnis, budaya dan agama. Dia seorang pluralis sebelum adanya gerakan pluralis yang berkembang subur saat ini.

 

Confession dan Compassion

Dalam buku Yap Thiam Pejuang HAM (1990) H.C. Princen sempat berucap:

”Yap si Kristen percaya amanat Kitab Suci dan Yap turunan Tionghoa yang percaya kepada nilai-nilai kuno seperti penghargaan terhadap orangtua dan pelajaran ” Kunfutse ” atau ” Laotse”. Jalannya Yap adalah jalannya yang menuju kepada Tuhan dan oleh karena itu bukan jalan yang gampang atau rata. Dia menerima itu dengan segala konskuensinya bahwa itu menimbulkan kesulitan untuk pribadinya dan mereka yang nasibnya tergantung dari dia. Apakah karena itu dia dapat menyanyikan begitu antusias dan dengan suara bagus nyanyian-nyanyian gereja penuh kepasrahan dan keseriusan. Hal hal sederhana adalah hal-hal yang berat. Percaya kepada Tuhan adalah sederhana, tetapi berat oleh karena kita diwajibkan tunduk kepada ajaran-Nya.”

Kiprah Yap memang membawa konskuensi salib tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga orang yang hidupnya tergantung pada Yap ( keluarganya). Hal ini disadari oleh Yap. Lalu apakah ada maknanya bagi Yap ketika ia mengunjungi kebaktian dalam gereja di mana isi khotbah pendeta dan liturgi gereja tidak ada benang merahnya dengan kehidupan dan perjuangan Yap? “Percaya kepada Tuhan adalah berat karena orang yang percaya tunduk pada ajaran-Nya,” demikian tanya H.C.Princeen. Hal ini tidak banyak dilakukan oleh para pengikut agama. Yap adalah sosok satunya confession (pengakuan iman) dengan compassion. Imannya bukan hanya di bibir dan akalnya. Imannya adalah iman yang keluar dari lubuk hati dan dimanifestasikan dalam karyanya. Sedangkan dalam dunia yang materialistik sulit menemukan kesatuan confession dan compassion.

Antara iman dan perbuatan sering ada jurang. Yap bagaikan sosok orang Samaria yang berjalan di jalan Yeriko sampai Yerusalem. Setelah Orde Baru, ia lebih banyak berkiprah dalam membalut orang luka (tahpol) daripada sibuk bersembahyang dalam rumah ibadah. Solidaritas pada orang miskin dan korban perampokan dilakukan Yap dalam kapasitasnya untuk mewujudkan kasih Kristus. Dalam hal ini Todung Mulya Lubis menulis: ”Komitmen Yap pada negara hukum, tegaknya keadilan dan Hak Asasi Manusia … semua pekerjaan yang dia lakukan adalah karena iman Kristen yang mengajarkan setiap orang untuk berbuat kasih.”

Yang mengakui karya Yap dalam penegakan hukum didasarkan iman Kristen dan kasih bukan keluar dari mulut seorang pendeta atau tokoh Kristen tapi dari orang yang bukan Kristen. Yap adalah orang yang berjalan di jalan penuh perampokan dan ia rela turun dari keledai dan membalut korban walaupun sang korban adalah kelompok yang pernah memusuhi atau berbeda dengan pemikiranYap.

 

Kerajaan Allah

Spiritualitas Yap adalah bentuk spiritualitas yang mengacu pada Kerajaan Allah. Walaupun Yap menolak pandangan Baperki tentang perlunya membangun masyarakat utopis sosialis untuk menghilangkan diskriminasi minoritas, tapi dalam hidupnya Yap memilii visi dan misi perlunya menghadirkan Kerajaan Allah dalam masyarakat Indonesia. Yap dalam hidupnya mengkritik dwi fungsi ABRI maupun kebijakan pembangunan yang menimbulkan banyak korban dan gap antara kaya dan miskin. Di samping mengkritik kebijakan yang menjadikan etnis Tionghoa sebagai kambing hitam ekonomi dan politik, Yap juga mengkritik sekelompok etnis Tionghoa yang hidup serakah dan memperkaya diri sendiri. Daniel Lev menganggap bahwa Yap dalam menegakkan HAM dan berbangsa dilandasi dengan utopia Kristen. Utopia Kristen yang dimaksud Daniel Lev tak lain adalah pandangan Yap tentang visi Kerajaan/Pemerintahan Allah di mana keadilan ditegakkan bagi semua tanpa pandang bulu.

Gambaran visi tentang Kerajaan Allah dari Yap digambarkan oleh Daniel Lev dengan kata-kata sebagai berikut: Tetapi terapi Yap sendiri – satu contoh pikirannya yang betul betul utopis- mengharapkan reformasi jiwa Indonesia atas dasar idealisme Kristen ( Lubis: 1990). Visi Kerajaan Allah merupakan masyarakat utopis yang diajarkan oleh idealisme Kristen. Itulah sebabnya dalam setiap perkara di mana Yap melaksanakan tugasnya sebagai advokat, Yap tidak lepas dari prinsip-prinsip cinta kasih (Mulya Lubis) dan kutipan kitab Injil (Bismar Siregar). Spiritualitas Yap tentang perlunya perombakan masayrakat tidak didasari dengan utopi Marxi atau Lenin, tetapi ia menemukan visi Kerajaan Allah dalam buku teologi pembebasan. Pada waktu peristiwa Malari 1974 Yap dipenjara bersama H.C.Princen, ia sempat mengirimkan sebuah buku teologi pembebasan pada H.C. Princen.

Dalam Kerajaan Allah, itulah manusia dipanggil untuk bersolidaritas dengan yang miskin dan para korban ketidakadilan sosial. Dalam solidaritas melawan ketidakadilan diperlukan transformasi sosial untuk mewujudkan manausia dan bumi baru.

 

Tahan Uji Bagaikan Rumput

Dunia mengakui kegigihan Yap dalam menegakkan keadilan dan HAM di Indonesia. Apa yang menjadi kekuatan Yap Thiam Hien untuk kokoh seperti batu karang dan garang seperti singa yang mengaum? Yap tidak mengandalkan kekayaan yang dimilikinya. Bukan pula jabatan tinggi yang disandangnya ataupun backing yang diterimanya. Perjuangan Yap dilandasi atas kejujuran dan keberanian untuk mewujudkan Kerajaan Allah. Walau ia seorang multi minoritas, tapi dia tidak rendah diri dan terhalang oleh status minoritasnya sebagai orang Kristen, Tionghoa jujur, pemberani dan penuh cinta kasih. Yap tidak mewakili etnis Tionghoa maupun kelompok agama Kristen atau gerejanya dalam berjuang. Melalui kiprahnya, Yap memberikan teladan kepada orang Kristen dan Tionghoa bagaimana seharusnya berkiprah dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Yap setia sampai akhir dalam perjuangannya karena ia wafat dalam menjalankan tugas advokasi untuk Indonesia di forum INGI di Belgia pada 26 April 1989. Bicara tentang kekokohan spiritualitas Yap dalam menjalankan visi dan misinya, saya mengakhiri tulisan ini dengan sebuah sanjak spiritualitas rumput:

Musim kering tak bergeming
Hujan tofan tak tergoyang
Di injak tak beranjak
Dibabat menjadi berkat
Hidup adalah berbagi kehidupan
Dengan semua mahkluk ciptaan
Itulah rumput yang hidup karena kemurahan Tuhan.
(Widyatmadja 2010: 131)

 

Sumber Bacaan:

  1. Dorr, Donal, Spirituality And Justice, Gill and Macmillan Dublin 1989.
  2. Mulya Lubis Todung dan Artides Katopo, Yap Thiam Hien Pejuang HAM, Pustaka Sinar Harapan , Jakarta 1990
  3. Sobrino Jon, Spirtuality of Liberation, Orbis Books New York 1989
  4. Star Weekly, Jakarta 17 Mei 1960
  5. Widyatmadja, Josef Purnama, Yesus & Wong Cilik, BPK Gunung Mulya, Jakarta 2010.
  6. Dokumen dan arsip pidato Yap Thiam Hien.

Ditulis oleh: Pdt. Josef Purnama Widyatmadja
Editor: Boy Tonggor Siahaan 

Penulis adalah Sekum Center for Development and Culture tinggal di Surakarta. Dapat dihubungi melalui email jwidyatmadja@gmail.com

Thu, 23 Jun 2011 @15:18


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno