Buku Seri Orang Muda Bicara Oikoumene (OMBO)

image

OMBO, apakah itu? OMBO adalah sebuah singkatan, "Orang Muda Bicara Oikoumene". OMBO bukanlah OMDO (OMong DOang), plesetan anak muda. Seri OMBO ini, terbitan Departemen Pemuda dan Remaja (DEPERA) PGI, bukan sekadar buku yang cuma OMDO, tetapi isinya memang tulisan-tulisan orang muda yang membicarakan gerakan oikoumene dan mengajak orang-orang muda berpikir, bertutur, dan bertindak secara oikoumenis atau ekumenis (Inggris: ecumenical). Inilah buku Seri OMBO perdana: Kota Sebagai Oikos.

OMBO (Orang Muda Bicara Oikoumene) adalah sebuah buku Seri yang bersifat semi ilmiah, yang tidak hanya memuat tulisan-tulisan ”berat” (tetapi tidak berat yang Anda bayangkan), namun juga memuat sejumlah refleksi-refleksi pengalaman hidup dari berbagai sudut pandang  penulis. Selain adanya rubrik Telaah dan Refleksi, buku Seri OMBO ini nantinya juga akan memuat rubrik Budaya seperti resensi buku, sajak, cerpen juga puisi.

Semua bisa menulis dan berkeluh-kesah di setiap rubrik ini terutama bagi warga kaum muda dan remaja dari setiap denominasi gereja. Tak hanya itu, OMBO ini juga berwawasan interfaith sehingga semua kalangan dari lintas agama atau lintas kepercayaan pun bisa turut mewarnainya. Itulah semua keunikan OMBO ini.

Buku Seri OMBO edisi kali ini mengambil tema ”Kota sebagai Oikos” yang isinya tentang kaum muda di kota dan mereka bicara tentang Jakarta. Chris Poerba, akan membuka Telaah yang pertama, yang menyatakan bila kota adalah sebuah oikos yang semakin membesar dan sebentar lagi akan meledak. Termasuk mengapa hingga sekarang sejumlah masalah di kota ini tidak berhasil diselesaikan? Ada apa yang salah dengan kota kita?

Selanjutnya, Hariman Pattianakotta, seorang pendeta dari Gereja Kristen Pasundan (GKP) menyoroti kemiskinan kota dalam perspektif teologi pembebasan. Dia melihat kalau Ikhsan dan Alan, kedua bocah yang dekat dengan lingkungan pelayanannya, telah mengalami pemiskinan bukan kemiskinan semata. Menurutnya, gereja seharusnya mengikuti teladan dari Yesus, yang bukan datang untuk orang kaya, bukan pula untuk orang yang sehat. Tidak tidur di rumah pejabat dan penguasa, tetapi berada di tengah-tengah petani dan nelayan, tidur bersama mereka dan melayani mereka. Gereja seharusnya dekat dengan Ikhsan dan Alan, yang sehari-hari mengayuh becak, menjadi tukang ojek, juga menjual barang loakan di pinggir rel kereta api, di Tanah Tinggi, Senen.

Lantas, bagaimana refleksi atas pengalaman para kaum muda di ibukota republik ini. Seorang anak muda dari Manado, Ferol Warouw, menuliskan kalau Jakarta, sejatinya hanya untuk menimba sebuah pengalaman yang baru, selanjutnya dengan pengalamannya itu pulang untuk membangun kampungnya. Pada sesi refleksi ini juga kita akan melihat bagaimana sejatinya kaum muda di perkotaan turut serta merawat bumi, begitulah tulisan dari seorang Achmad Ubaidillah, seorang muslim yang saat ini menjadi direktur dari Pusat Studi Pesantren.

Dalam rubrik Budaya, sebuah resensi buku dan cerpen akan menutup perjumpaan kita kali ini. Saudara Hojot, menuliskan cerpennya yang mengambil sebuah sosok seorang pelarian yang pulang kembali ke kotanya. Saat menemui temannya ternyata dia mendapatkan ”air tuba”. Sebuah cerita kalau kota dengan segenap hiruk-pikuk yang terjadi di dalamnya dapat mengubah sebuah manusia, watak manusia. Waspadalah! Akhir kata, mungkin seperti inilah hidangan pembuka yang bisa disampaikan kali ini. Selamat menikmati setiap jengkal kata yang termuat di Seri OMBO ”Kota Sebagai Oikos."

Editor: Boy Tonggor Siahaan

 

Thu, 30 Jun 2011 @09:10


1 Komentar
image

Mon, 8 Aug 2011 @22:12

eliezer budiono

menarik juga tuh . . . gimana cara dapetin bukunya ? G B U


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno