Sidang Sinode Ke-26 GEPSULTRA

image

Sambutan mewakili MPH PGI
pada Pembukaan Sidang Sinode ke-26 GEPSULTRA,
Kendari 5 Juli 2011

Bapak, Ibu, saudara-saudara jajaran warga dan pelayan GEPSULTRA, dan para undangan pejabat negara, sipil dan militer, pimpinan gereja-gereja, yang semua sama saya hormati. Panitia dan semua undangan sidang sinode ke-26 GEPSULTRA yang berbahagia. Selamat sore, damai sejahtera Tuhan Yesus Kristus atas Anda sekalian.

Saya berdiri di sini menyampaikan sambutan mewakili Ketua Umum MPH PGI, Bapak Pdt. Dr. Andreas Yewangoe. Beliau menyampaikan salam kepada Anda semua, dan memohon maaf karena kesehatannya menghalangi sehingga tidak bisa memenuhi undangan ke persidangan ini. Saya diminta mewakili MPH PGI menyampaikan sambutan, dan dijadwalkan juga untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai tema persidangan ini.

Persidangan gerejawi pada semua lingkup – dari rapat Majelis Jemaat sampai persidangan sinode, dan sidang raya gereja-gereja -- seringkali dikritik karena hanya menghasilkan banyak keputusan tetapi kurang dilaksanakan. Bahkan kadang-kadang ada persidangan gerejawi yang menjadi ajang memperebutkan kursi kepemimpinan.

Secara teologis -- pada hakekatnya suatu persidangan sinode seperti ini mempunyai sedikitnya tiga fungsi pokok. Pertama, mengevaluasi berbagai program pelayanan yang dimandatkan oleh persidangan sinode yang lalu. Sebab itu, laporan pimpinan sinode dan pembahasannya patut dilaksanakan dalam semangat ucapan syukur, bahwa Tuhan memperkenankan gereja-Nya melakukan berbagai panggilan pelayanan di dalam dan di luar gereja dalam periode yang berlaluJadi, fungsi persidangan sinode yang kedua adalah perayaan atau pesta iman: ibadah dan semua aktivitas persidangan menjadi suatu tanda syukur dan penyerahan diri kita hamba-hamba-Nya kepada Allah yang pengasih. Dan fungsi persidangan yang ketiga adalah memetakan program panggilan gereja dan membaharui komitmen (akad dan tekad) untuk melanjutkan panggilan pelayanan gereja di tengah-tengah dunia.

Saya sempat memeriksa catatan sejarah GEPSULTRA ini. Seperti beberapa gereja lainnya di Sulawesi, penginjilan dimulai pada dekade pertama atau kedua abad ke-20, yakni, setelah pemerintah kolonial Belanda mengamankan wilayah-wilayah pedalaman Sulawesi dari perang suku, pengayauan dan rintangan-rintangan lainnya. Badan zending Belanda, de Utrechtse Zendingsvereeniging (UZV), mulai bekerja di Sulawesi Tenggara pada tahun 1916/17. Sebelum itu memang sudah ada jemaat-jemaat Kristen di beberapa kota (Kolaka, Kendari, Baubau) di kalangan militer atau pegawai beragama Kristen. Dengan banyak hambatan agama Kristen diterima orang Tolaki dan orang Moronene. Tetapi persekutuan jemaat-jemaat kecil yang tersebar di beberapa tempat mengalami penganiayaan oleh gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar pada tahun 1950-an dan 60-an: kampung dibakar, orang mengungsi, yang tertangkap disiksa dan banyak yang terbunuh. Namun syukur kepada Tuhan, justru di tengah-tengah derita penganiayaan itu GEPSULTRA berdiri pada tanggal 10 Februari 1957. Sejarah jemaat-jemaat masa DI/TII ini seharusnya segera ditulis supaya tidak dilupakan, dan supaya menjadi tanda penghormatan kepada para martir gereja masa itu.

Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya jemaat-jemaat gereja ini telah pula dipakai Tuhan untuk menghimpun umat-Nya yang berasal dari luar daerah, khususnya umat Kristen asal Toraja, Jawa, Bali, dan suku-suku lainnya, yang banyak bermigrasi atau ditransmigrasi ke daerah ini pada tahun 1970-an dan 80-an. Jadilah GEPSULTRA suatu gereja multi-etnis, gereja Indonesia.

Saya memberi perhatian secara khusus pada sejarah penindasan gerombolan DI/TII, dan pada pengembangan persekutuan jemaat-jemaatnya menjadi gereja lintas etnis, karena menunjuk pada dua dari tiga pokok pergumulan gereja-gereja di Indonesia dewasa ini, sebagaimana juga dimuat dalam subtema persidangan ini. Ketiga pokok itu adalah: Memperkuat Persekutuan, Merawat Kemajemukan, dan Memelihara Ciptaan.

 

Mengenai merawat kemajemukan, dewasa ini, suatu situasi sedang berkembang di beberapa tempat di Indonesia, yang mengingatkan gereja-gereja pada masa penganiayaan DI/TII. Pembangunan gedung gereja dilarang; bahkan orang dilarang beribadah, sampai ada yang mengalami kekerasan. Yang merisaukan, dalam peristiwa-peristiwa itu fihak keamanan tidak bertindak sebagaimana mestinya. Pada masa DI/TII rakyat dilindungi pemerintah. Kini terjadi pembiaran ketika kelompok-kelompok kecil lemah ditindas oleh sekelompok orang yang katanya membela agamanya. Ditengarai bahwa di tengah-tengah bangsa kita sedang terjadi radikalisasi agama yang menciderai persatuan sebagai satu bangsa yang majemuk. Sebab itu PGI mengedepankan panggilan merawat kemajemukan, yakni supaya umat Kristen tidak terpancing untuk meningkatkan konflik danpermusuhan antara sesama anak bangsa yang berbeda-beda. Kita menghargai bahwa pimpinan gereja dan semua pimpinan umat beragama di daerah ini tetap menjalin hubungan-hubungan baik, saling pengertian dan bahkan bersama-sama menjaga daerah ini dari gangguan orang-orang atau kelompok-kelompok yang mengganggu kerukunan. [Terima kasih atas informasi Wakapolda bahwa di daearh ini tidak ada gangguan terhadap umat Nasrani.] Dengan demikian umat beragama berkesempatan untuk memberi perhatian pada masalah-masalah sosial. Panggilan umat beragama tidak terbatas pada urusan ritual peribadahan. Perhatian terhadap masalah-masalah sosial juga merupakan tanggungjawab pimpinan dan umat beragama. Masyarakat kita mengalami kemiskinan dan pemiskinan (jangan percaya) sementara banyak petinggi kita yang mencuri uang rakyat. Mungkin Anda tahu puisi Taufiq Ismail (“Mungkin Sekali Kita Sendiri Juga Maling) atau mengenai 17 dari 33 Gubernur ... Kaum remaja dan pemuda kita diancam jaringan narkoba, jaringan trafficking mengncar gadis-gadis muda, dan penyebaran HIV/AIDS diam-diam menyusup. Pembinaan umat beragama perlu memberi perhatian serius supaya dari dalam diri setiap orang ada kekuatan-kekuatan menolak atau melawan berbagai ancaman itu. Dalam kaitan itu, peranan kaum perempuan di dalam gereja memang strategis dan perlu mendapat tempatnya. [Tapi saya tidak berkampanye untuk perempuan masuk ke pimpinan sinode...] Dan hal lain yang juga tetap menjadi masalah besar kita adalah mengatasi kekerasan di dalam rumah tangga. Ada gereja yang memberi perhatian khusus pada kelompok kaum Bapak sebagai kelompok target pembinaan untuk penghapusan masalah KDRT ini.

Bapak, Ibu hadirin yang saya hormati. Tadi saya menyebut aspek persekutuan antar-etnis dalam GEPSULTRA. Kenyataan hubungan antar-etnis di dalam gereja ini perlu dikedepankan, sesuai penekanan PGI untuk memperkuat persekutuan. Latar belakangnya adalah kenyataan bahwa secara internal umat Kristen Indonesia mengalami banyak konflik dan perpecahan, baik di dalam satu gereja, maupun antar-gereja atau denominasi. Dewasa ini banyak perpecahan gereja dengan membawa-bawa kelompok etnis. Janganlah menjadikan gereja sarana untuk kepentingan etnis secara sempit. Komitmen ekumene kita adalah mewujudkan adanya keesaan gereja, sebagai kehendak dan karunia Allah dalam Yesus Kristus. Para pimpinan gereja pada semua lingkup, dari jemaat sampai sinode perlu secara arif mengelola dinamika konflik di dalam jemaat, sehingga dapat bermuara pada pemulihan persekutuan, bukannya berujung konflik perpecahan. Ketika mempelajari masalah konflik dan perdamaian, saya membaca mengenai suatu kearifan lokal dalam kebudayaan di daerah ini, yakni rekonsiliasi dengan simbol kalosarayang berintikan kewajiban untuk memulihkan hubungan persaudaraan jika timbul sengketa. Secara teologis saya berpendapat bahwa simbol kalosara itu sungguh Injili. Setiap kearifan budaya yang bertujuan memulihkan sengketa menjadi perdamaian berasal dari Tuhan sendiri.

Bapak-Ibu, hadirin yang saya hormati. Baiklah saya akhiri sambutan ini dengan secara khusus menyampaikan selamat kepada seluruh jajaran GEPSULTRA, atas sukses dua orang putri asal gereja ini, yang telah berhasil menyelesaikan studi doktor teologi dengan hasil cum laude: Pdt. Dr. Aguswaty Hildebrandt Rambe dalam teologi lintas budaya di Nurenberg, Jerman; dan Pdt. Dr. Septemy Lakawa dalam bidang misologi di Boston, Amerika Serikat. Kiranya sukses mereka memberi motivasi bagi generasi muda GEPSULTRA.

Selamat bersidang sinode, Tuhan berkati.

 

Makassar, 5 Juli 2011

 

Zakaria J. Ngelow

 

Thu, 7 Jul 2011 @14:38


2 Komentar
image

Thu, 7 Jul 2011 @20:23

Aleksander Mangoting

Selaamt bersidang sukses selalu.

image

Fri, 8 Jul 2011 @13:51

jobta tarigan

selamat bersidang sinode.Tuhan Yesus kepala gereja memberkati..


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2021 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno