Jelang Rapat Kerja Nasional PGIW/SAG 2011

image

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PGIW/SAG 2011 akan digelar pada 27-31 Juli 2011, di Samosir, dengan tuan dan Nyonya rumah PGIW Sumatera Utara. Dalam event tahunan ini bakal diskusikan berbagai pergumulan serta upaya perwujudan gerakan keesaan gereja yang dilakukan PGIW/SAG di seluruh Indonesia.

Menurut Sekretaris Eksekutif Bidang Koinonia PGI, Olvi Prihutami, pelaksanaan Rakernas dilatarbelakangi oleh perziarahan ekumenis, PGI yang masih dihadapkan pada realitas bahwa cita-cita bersama Gereja-gereja yang tergabung dalam wadah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) untuk menjadi gereja Kristen yang Esa di Indonesia, dapat dikatakan masih jauh dari harapan.  Potret keesaan Gereja-Gereja di Indonesia, nampak semakin kabur dan tidak jelas, boleh jadi disebabkan oleh beberapa faktor, baik yang bersifat teologis maupun non-teologis.

Lebih jauh dijelaskan, beberapa kondisi yang menjadi realitas pergumulan keesaan gereja-gereja, yaitu: pertama etnisitas gerejawi seringkali menjadi kendala mengesanya gereja-gereja di tengah-tengah masyarakat yang multikultural. Namun, di sisi lain hal ini sesungguhnya dapat menjadi ‘kekuatan’ untuk mendukung proses terwujudnya keesaan gereja dalam format merayakan keragaman etnis dan kontestualisasi budaya. Kedua, tak dapat dipungkiri bahwa kecenderungan sementara gereja-gereja anggota dalam beroikumene, adalah untuk hal-hal yang menguntungkan bagi gerejanya sendiri, dan terdapat kegamangan untuk berkorban demi terwujudnya keesaan Gereja di Indonesia. Tentu pemahaman masing-masing gereja tentang arti keesaan sangat mempengaruhi implementasi keesaan yang diterapkan.

Ketiga, walaupun ada upaya-upaya gereja untuk berperan secara signifikan dalam relasinya dengan masyarakat, hubungan Gereja dan masyarakat dirasakan masih berjarak. Gereja terasa asing bagi lingkungan masyarakatnya sendiri karena masih kurang membuka diri meskipun tidak terlalu eksklusif. Keempat, pendikotomian antara keesaan “Struktural’ dan ‘fungsional’, sering menimbulkan disorientasi dalam arah gerakan keesaan itu sendiri.

Di tengah-tengah realitas ini, maka peran PGIW/SAG menjadi semakin signifikan dan strategis sebagai ujung tombak gerakan keesaan gereja di tingkat basis. Karena itu Rakernas menjadi sangat penting. Rakernas PGIW/SAG adalah forum pimpinan PGIW/SAG untuk mengkordinasikan tugas gerakan keesaan di Indonesia. Rapat ini juga penting dalam memobilisasi kegiatan gereja-gereja anggota, agar semua keputusan sidang Raya PGI serentak dapat terlaksana secara meluas di seluruh wilayah Indonesia. Rakernas ini diselenggarakan dalam rangka optimalisasi fungsi PGIW/SAG, membantu gereja-gereja anggota PGI mencari terobosan baru dalam mewujudkan cita-citanya menjadi Gereja Kristen yang Esa (GKYE) di Indonesia, dan dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat yang multikultural,” jelasnya.

Ditambahkan, PGIW/SAG merupakan kelengkapan PGI (bukan salemba 10, tapi gereja-gereja di seluruh Indonesia) dalam rangka kordinasi dan implementasi visi dan misi PGI di tingkat lokal/basis. Secara spirit PGIW merupakan alat kelengkapan PGI, namun scara struktur memiliki independensitas dan bergerak sebagai network/jaringan yang mengkordinasikan dan memobilisasi model-model kerjasama dalam koridor keesaan bagi penguatan gereja anggota.

 

Core business PGIW

Walaupun rakernas ini diselenggarakan setiap tahun, namun Olvi berharap justru ini menjadi ajang sharing, kordinasi dan merencanakan aksi bersama ke depan dalam rangka optimalisasi peran dan fungsi PGIW. Selain pergumulan on going yang berhubungan dengan core business PGIW.

“Maka setiap tahunnya Rakernas mengusung isu yang lahir dari pergumulan spesifik yang ada. Maksudnya adalah bagaimana PGIW-PGIW dapat memberikan tanggapan yang tepat terhadap realitas yang ada, khususnya berkaitan dengan gerakan keesaan dan penguatan gereja-gereja anggota. Khusus rakernas tahun ini, ada perhatian terhadap isu pengembangan wawasan kebangsaan, wawasan multikultural dan juga meneruskan concern PGIW/SAG pada hubungan lintas iman. PGI juga memberi perhatian pada situasi dan kondisi masing-masing PGIW/SAG,” katanya.

Selain itu, keterbukaan dalam memaparkan situasi yang ada ekternal maupun pergumulan internal sangat penting, karena dari situ dapat diidentifikasi semacam SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan) dari gerakan keesaan di tingkat basis untuk disikapi secara bersama-sama.

Melalui rakernas kali ini, lanjutnya, paling tidak ada lima harapan yang dicanangkan dan dirumuskan yaitu implementasi keputusan-keputusan dan mandat gereja-gereja melalui Sidang Raya XV di Mamasa tahun 2009, evaluasi progresifitas gerakan keesaan gereja-gereja di Indonesia, khususnya di wilayah, optimalisasi peran PGIW/SAG sebagai kordinator wilayah untuk gereja-gereja di Indonesia dalam rangka mewujudkan cita-cita keesaan gerakan oikumene di Indonesia, membangun sistem berjejaring oikumenis sebagai sarana penguatan gereja-gereja dalam mewujudkan keesaan gereja serta penyegaran kembali peran PGIW/SAG sebagai basis keesaan di tingkat wilayah, melalui program-program pewilayahan. (Markus Saragih)

Fri, 15 Jul 2011 @10:25


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2022 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno