Kode Etik Perjumpaan Antaragama

image

Oleh: Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga*

Pencanangan  “A Common Word” oleh puluhan teolog Muslim pada 13 Oktober 2007 lalu telah banyak mengubah peta perjumpaan sejagad antara Islam dan Kristen. Dokumen itu menyerukan bahwa sesungguhnya bagi Agama Islam dan Kristen terdapat kesamaan hakiki dalam pengalaman imannya, yaitu kasih kepada Allah dan sesama manusia. Karena inti kedua agama tersebut tertaut dengan ihwal yang sama, maka baik Islam dan Kristen kini diundang untuk menyiangi dunia agar damai dan rukun sungguh nyata dalam hidup bersama.

 

Pada 28 Juni 2011  lalu, di Genewa Swiss, panggilan iman yang dimotori oleh Pangeran Jordania Ghazi bin Muhamad ini seolah mendapat gaungnya dari 3 lembaga Kristiani dunia. Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (Pontifical Council for Inter-religious Dialogue),  Dewan Gereja-gereja se-Dunia/DGD, dan Aliansi Evangelical/Injili se-Dunia meluncurkan dokumen iman tentang “Christian Witness in a Multi-Religious World: Recommendation for Conduct” (http://www.oikoumene.org/en/news/news-management/eng/a/article/1634/christians-reach-broad-co.html). Dokumen ini semacam kode etik perjumpaan antar agama; umat Kristiani dihimbau untuk  bersikap etis dalam bersaksi dan mengkomunikasikan imannya kepada umat beriman yang berbeda agama. Dan sikap itu sungguh serius akibat banyaknya konflik yang terjadi belakangan ini akibat kasus alih-agama (conversion) di seantero dunia. 

Tak lagi Soal Pindah Agama

Sejak sidang raya DGD di Evanston (1954) dan Konsili Vatikan 2 (1965) telah semakin jelas bagi umat Kristiani bahwa dialog adalah cara terbaik berjumpa dengan agama-agama dunia lainnya. Dalam dialog ada kesediaan mendengarkan seruan atau pesan iman sesama, lalu mempelajarinya dan karenanya rela mengubah pandangan teologis terhadap agama yang lain. Untuk itu memang pengenalan yang tepat tentang iman yang berbeda sungguh dibutuhkan, agar dengannya sikap superior atau pun berprasangka dapat meluruh. Bahkan dengan dialog amat dimungkinkan menyelenggarakan kerjasama konkret lintas-agama; kita mengingat bagaimana dalam banyak bencana di Indonesia agama-agama saling bekerja meringankan beban.

Dengan demikian telah berlangsung pengujian atas teologi dan praktik Kristiani terkait sikap dan lakunya di hadapan umat berbeda iman, dan dokumen yang barusan diluncurkan tadi hendak menegaskan sekali lagi sejumlah ihwal yang mendasar kalau orang Kristen kini berjumpa dengan sesamanya dan mengkomunikasikan keyakinannya.

Dalam dokumen itu ditetapkan bahwa berbagi harapan menjadi inti kesaksian Kristiani yang utama, dan inilah yang hendak dikongsikannya secara dialogis di tengah kemajemukan agama di dunia ini. Kalau orang Kristen memakai paksaan atau bujukan material dalam kesaksiannya itu, maka mereka sudah mengkhianati inti kesaksian itu sendiri. Ikhtiar membawa orang pindah ke dalam agama Kristen tidak menjadi bagian kesaksiannya tadi,  –dengan tegas dokumen itu berkata, “conversion is ultimately the work of the Holy Spirit”.

Maka, mirip dengan seruan saudara muslimnya dalam “A Common Word”, memang prinsip kesaksian Kristiani bersandar pada Allah sebagai sumber yang membuat kasih bisa terjadi di antara sesama manusia. Hidup dan karya Yesus Kristus bisa dicontoh untuk hal ini: Ia sendiri mengasihi Allah dan berbagi kemurahan kepada manusia manapun, tanpa membeda-bedakan. Maka laku atau praktik hidup Kristiani menjadi pertaruhan terbesar dalam kesaksian imannya. Sungguh keliru kalau karya pendidikan dan kesehatan Kristiani dipakai untuk tujuan membawa orang lain masuk agama Kristen. Karya sosial dikerjakannya demi pemenuhan kesejahteraan bagi semua, tanpa menyimpan agenda tersembunyi apapun.

Selanjutnya, manuver politik yang sering menguntungkan agama tertentu harus dihadapi dengan mengetengahkan kebebasan beragama sebagai kondisi sosial masyarakat majemuk. Lembaga-lembaga agama perlu didorong bekerja-sama, dalam aksi advokasi, mencegah kalau-kalau kekuatan politis dipakai membungkam agama tertentu. Dalam kebebasan beragama tadi maka umat Kristiani harus bisa menerima atau pun mendampingi secara memadai kalau terjadi keputusan alih-agama; dan menurut saya sikap tadi sungguh diperlukan dalam seseorang ke luar atau pun masuk ke dalam agama Kristen. Amat perlu dijamin bahwa proses itu berlangsung dalam kebebasan penuh dari pribadi yang bersangkutan.

Maknanya bagi Kita di Indonesia 

Beberapa waktu lalu Azyumardi Azra menegaskan adanya warisan sejarah  “balapan” antara Islam dan Kristen di Nusantara (Azra:2000), dan situasi Indonesia sampai kini tampaknya belum bisa keluar dari modus tersebut. Walau pun selanjutnya diusahakan komunikasi lintas agama di Indonesia, hubungan Islam-Kristen masih saja berkerangka balapan tadi, atau kalau mengutip istilah jitu Karel Steenbrink, Islam-Kristen saling merasa sebagai  “kawan-bertikai”. Yang mencemaskan ialah kalau kemampuan hidup rukun semakin melemah di negeri ini, lalu pertikaian tadi mendorong pembentukan religious boundaries  yang keras. Di situ pemuliaan dan pembentukan identitas agama-agama akan bercorak “frontier”, siap untuk beradu satu dengan lainnya.

Akhir-akhir ini,  situasi hubungan Islam-Kristen tadi berkembang menjadi saling merasa terancam, “Feeling Threatened” (Mujiburrahman:2006). Ada momok Islamisasi negara dan hukum dalam wacana intern Kristiani, dan ada juga momok Kristenisasi penduduk di Nusantara dalam percakapan sehari-hari umat Islam. Hubungan tadi kalau memburuk akan berpola “zero-sum game”, dan tentu kita bisa membayangkan betapa kekerasan akan menjadi ujung setiap pola hubungan kalah-menang ini.  Pendek kata, balapan antara Islam-Kristen memang bisa menciptakan mental benteng, dan kalau masing-masing umat resah karena merasa terancam, maka medan pertarungan akan dengan mudah dibuka.

Karena itu gagasan global dari umat Islam “A Common World  dan dari gereja tentang kode etik di atas, sungguh penting dalam memberi arah pertemuan kedua agama terbesar di dunia ini. Tentu kita bersyukur bahwa lembaga terbesar Islam Indonesia (yaitu NU dan Muhammadyah) telah menegaskan bahwa Pancasila adalah dasar negara dan hukum publik kita –jadi momok Islamisasi negara hendak diatasi secara mendasar.

 

Dan kini dengan penetapan secara global dokumen kode etik ini, umat  Kristiani di Indonesia bisa menegaskan bahwa karya dan komunikasi imannya tidak berniat mengkristenkan warga atau penduduk di sini. Maka mitos Kristenisasi hendak pula dibongkar secara sistematis dan mendasar, agar selanjutnya yang muncul ialah karya dan komunikasi iman demi kemaslahatan seluruh warga negara di Indonesia.

Sumber: Kompas, 14 Juli 2011 (hlm. 7)

Martin L Sinaga adalah pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun, kini ia bekerja di lembaga ekumenis Lutheran World Federation/LWF.

Fri, 15 Jul 2011 @10:50


5 Komentar
image

Fri, 15 Jul 2011 @17:37

de.sianturi,mth

idenya "in the high level it's ok" and sudah bagus mestinya implementasinya akan lebih bagus lagi ketika semua memahami dan melakukan paradigma "Berbeda Tapi Mesra". Praktisnya pemimpin di setiap strata dari atas sampai bawah penuh integritas, sehingga di grass rooth juga terimpartasi, apa yang "dipikirkan, dikatakan dan dilakukan sama"

image

Sat, 16 Jul 2011 @06:27

Himawan Setyarso

Tugas untuk semua yang mengerti, membuat pikiran ini menjadi bahasa sederhana dam implementatif, sehingga bisa menjadi gerakan menyeluruh

image

Tue, 19 Jul 2011 @07:53

agus marpaung

adanya agama supaya kehidupan dan iman dapat selaras menuju kebaikan,kebenaran dan tentunya yang dikehendaki oleh Tuhan. kesulitan yang ada karena manusia sering dianggap sebagai agama dan bukan sebaliknya. bagi manusia yang telah beragama ciptakan agama tersebut sudah mendarah daging dalam hidup,tubuh dan iman.Tuhan berkati

image

Wed, 27 Jul 2011 @13:32

jobta tarigan

semoga agama tidak menjadi Tuhan bagi kita sekalian...

image

Fri, 23 Sep 2011 @15:56

philip suan

ini membuat kita saling mengerti dan saling menerima


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2022 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno