Radikalisme Agama Dan Perjamuan Kudus Sedunia

image

01.10.2011 11:36

Tak banyak yang mengenal Ahmad Yosepa alias Hayat. Ia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Ia hanyalah pemuda biasa. Mendadak, hari Minggu (25/9) lalu, ia menjadi orang ternama di Indonesia.

Ahmad Yosepa adalah pelaku aksi bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, yang mencederai banyak orang, sekaligus merenggut nyawanya sendiri.

Aksi bom bunuh dirinya ditujukan terhadap orang-orang yang dibencinya. Padahal, tidak seorang pun dari umat itu dikenalnya. Ia belum pernah bergaul dan berinteraksi dengan mereka. Lalu apa motifnya? Dari mana akar kebencian dan nafsu membinasakan itu?

Ada banyak alasan mengapa orang membenci dan bernafsu membunuh sesamanya, terutama yang berbeda agama atau aliran keagamaan. Ada alasan sosial, ekonomi, kekuasaan, motif psikologis, dan sebagainya.

Tetapi, ada satu motif penting yang—menurut prakiraan orang—kemungkinan besar telah memengaruhi Ahmad Yosepa bertindak fatal. Motif itu adalah interpretasinya terhadap ajaran agama. Sekali lagi, ini bukan soal agama, tetapi soal interpretasi terhadap ajaran agama. Singkatnya, dia dimotivasi oleh radikalisme agama.

Setelah itu, orang makin menyadari, betapa bahayanya radikalisme agama itu. Tetapi, apakah benar radikalisme agama sesuatu yang sangat berbahaya? Aspek ini akan kita renungkan!

Kami Vs Mereka

Radikalisme berasal dari kata radix yang berarti akar. Penganut radikalisme, dari agama mana pun, selalu mencita-citakan dan memperjuangkan agar agama yang dianutnya kembali ke akarnya. Sampai di sini, kata radikal bersifat netral. Tidak ada makna negatif dan peyorasi dalam konotasinya.

Persoalan muncul ketika orang mulai menginterpretasikan apa sesungguhnya “akar” sebuah agama. Ketika makna mulai dikembangkan, orang pun berbeda pendapat terhadap makna radikalisme.

Pendapat pertama, berdasarkan interpretasi yang kaku dan literal terhadap kitab suci, cenderung mengembangkan sikap eksklusif, intoleran, serta penuh kebencian terhadap sesama, terutama yang berbeda.

Dunia dimaknai sebagai ajang peperangan antara “kami” sebagai pengikut Allah dan “mereka’ sebagai pengikut iblis. Orang yang berbeda keyakinan, baik aliran dalam agamanya maupun beda agama, dianggap sesat, kafir, musuh Allah yang harus disingkirkan, bahkan dibasmi.

Bahasanya adalah bahasa kekerasan! Tindakan memerangi dan membunuh sesama yang dilabel antek-antek iblis diyakini sebagai perjuangan Allah. Penganutnya bersedia menanggung risiko apa pun, termasuk mati. Ahmad Yosepa adalah penganut radikalisme agama model ini.

Dalam Alkitab, penganut radikalisme agama garis keras ini muncul dalam diri imam-imam Yahudi, orang-orang Farisi, terutama kaum Zealot. Umat Kristen pada masa Kaisar Konstantin di Romawi sampai abad pertengahan didominasi oleh radikalisme agama model ini. Akibatnya, konflik internal dan antaragama cukup marak pada masa-masa ini.

Cinta Kasih

Interpretasi kedua terhadap makna radikalisme agama bertentangan total dengan interpretasi pertama. Penganut interpretasi yang kedua meyakini bahwa "akar" agama, apa pun agamanya, terletak pada cinta kasih dan keadilan. Bagi mereka, substansi ajaran agama adalah segala sesuatu yang menghadirkan kebaikan, yaitu rahmat, cinta kasih, keadilan, dan kesetaraan.

Agama bukan sekadar simbol atau ritual. Alih-alih sebagai sumber eksklusivisme dan primodialisme, agama justru berfungsi sebagai penabur benih cinta, perdamaian, toleransi, dan keadilan yang berujung pada pemanusiaan manusia.

Bertentangan dengan penganut radikalisme agama pertama yang bersedia mati dalam kebenciannya terhadap sesamanya, penganut radikalisme yang kedua justru bersedia mati dalam cinta dan perjuangannya menegakkan perdamaian dan keadilan bagi semua orang.

Yesus adalah penganut radikalisme agama yang kedua. Ia menyerahkan diri-Nya demi cinta-Nya pada umat manusia dan dunia.

Sikap hidup Yesus ini menginspirasi perjuangan Martin Luther King Jr, Nelson Mandela, Suster Teresa, Paus John Paulus II, dan sebagainya. Sesungguhnya dalam Perjamuan Kudus sedunia, 2 Oktober 2011, besok kita sedang merayakan dan memberlakukan cinta dan perdamaian bagi seluruh umat manusia dan dunia.

Penulis: Pdt. Dr. Albertus Patty

*Penulis adalah pendeta gembala di GKI Jalan Maulana Yusuf No 20, Bandung.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/content/read/radikalisme-agama-dan-perjamuan-kudus-sedunia/

 

Sun, 2 Oct 2011 @19:41


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno