Apa itu Pluralisme?

image

“Bagi saya tidak ada urusan, dia mau masuk Islam atau tidak. Itu tidak ada hubungannya. Kalau ada yang masuk Islam, biasanya orang tersebut dibawa ke masjid, diadakan syukuran. Tetapi kalau ada yang keluar dari Islam, maka orang tersebut dicaci maki. Dengan demikian maka  sebenarnya itu masih relativisme, belum pluralisme,” begitulah ujar Musdah Mulia, yang saat ini menjabat Ketua Umum ICRP, sebuah lembaga yang aktif melakukan dialog antarumat beragama.

Bukan Relativisme
Beliau mengatakan hal tersebut di Sekolah Agama, kegiatan rutin dari lembaga yang dipimpinnya ini. Dia mengatakannya di bulan November, setahun yang lalu, baginya karena pluralisme ini tak lekang oleh waktu, sehingga kapan saja, baik untuk dikabarkan. Kehadiran Musdah Mulia di Sekolah Agama ini sangat diharapkan oleh para peserta Sekolah Agama. Dalam Sekolah Agama tersebut, beliau sedang menjelaskan ciri-ciri pluralisme, salah satunya adalah pluralisme bukan seperti relativisme. Baginya, bila ada umat yang pindah agama semestinya ditanggapi dengan biasa saja, karena iman adalah urusan masing-masing dari yang bersangkutan.

Selain relativisme, menurutnya ada lima ciri-ciri dari pluralisme. Pluralisme itu bukanlah relativisme, pluralisme berbeda dengan pluralitas, pluralisme tidak sekedar toleransi, pluralisme bukan sinkretisme, dan yang terpenting pluralisme dibangun di atas basis dialog antaragama. Pengajar di Universitas Islam Negeri ini, juga menambahkan, kalau agama tetaplah penting karena, “Agama itu menanamkan pada pemeluknya ‘vitalitas moral’ karena manusia itu yakin dan komitmen pada esensi ‘realitas’ yang fundamental. Jadi banyak pemeluknya yang sebenarnya bisa bertindak sebagai agen-agen perbaikan moral. Di sinilah nanti juga akan adanya perdebatan tentang moral.”

Keniscayaan
Pluralitas adalah sebuah fakta dan keniscayaan. Semenjak kita lahir ke dunia maka pluralitas dan keberagaman sudah ada, terutama di Indonesia yang terdapat beribu pulau yang di dalamnya terdapat banyak etnik, budaya dan bahasa. Sedangkan pluralisme adalah proses menciptakan masyarakat bersama (common sense), sehingga pluralisme itu berbeda dengan plurality atau bhinneka dan juga beda dengan diversity, yaitu keberagaman atau pluralitas yang alami. Dengan demikian, tanpa adanya dialog yang intensif, terus-menerus antara setiap pluralitas yang ada, maka tidak akan ada pluralisme. “Malah sebaliknya pluralisme adalah sebuah ‘prestasi’, pencapaian bersama dari kelompok agama dan budaya yang berlainan untuk menciptakan common society,“ terang Musdah Mulia, ketika membedakan makna terdalam dari pluralisme.

Pluralisme yang berbasiskan agama itu penting, menurutnya.“Agama bisa melahirkan tindakan kemanusiaan yang positif dan konstruktif. Dan Agama dapat menjadi ‘sumber makna’ dan kebijakan (a source of meaning and wisdom).” Terlebih-lebih dia menambahkan kalau ketidakadilan adalah musuh dari semua agama. Musuh orang beragama adalah ketidakadilan, kemiskinan dan kezaliman. Atas dasar itulah maka pluralisme itu sangat dibutuhkan di Indonesia. Musdah sangatlah iba, karena akhir-akhir ini, pluralisme lebih dinyatakan sebagai kata kotor oleh beberapa oknum, tetapi peran negaralah yang seharusnya bisa menengahi hal ini, katanya, “Yang menyedihkan negara ini tidak bersikap, karena memang tidak boleh ada fatwa untuk pluralisme. Jadi terdapat kekeliruan definisi pluralisme yang sejati itu.” Pertanyaan yang cukup penting selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mendorong pluralitas menuju pluralisme.

Sebagai penutup dalam sesi tersebut dia menekankan kalau,“Tuhan dalam kajian saya lebih feminitas, itu yang saya bayangkan, tetapi agama yang terlalu maskulinitas. Jadi bagaimana kita bisa mengubah wajah maskulinitas agama menjadi yang lebih melahirkan kelembutan, kedamaian dan kesejukan.“ Begitulah pemahaman Musdah Mulia, baginya Tuhan dan agama kadang seiring namun kadang juga tak sejalan.

Ditulis oleh: Chris Poerba (Pegiat Komunitas Sekolah Agama)

Editor: Boy Tonggor Siahaan (Staf PGI)

Sumber: http://icrp-online.org/102011/post-557.html#comment-513

 

Fri, 7 Oct 2011 @14:41


3 Komentar
image

Sun, 9 Oct 2011 @06:08

Tina Napitupulu

Yth. Ibu Musda,
Salam kenal Bu. Saya bersyukur ketika membaca tulisan Ibu. Ada usul dari saya, bagaimana kalau kita mengajukan proposal kepada mendiknas agar sejak bangku SD sudah ada pendidikaan yang berkaitan dengan infformasi pluralisme. Ini sangat seious sekali soalnya terlalu baanyak orang dewasa yang gaaak nyambung bicara soal pluralisme. Yang kedua, bagaimana caranya agar saya dapat berdialog langsung dengan Ibu sebab saya ibu rumah tangga yang tidak bergabung dengan lembaga2. Terimakasih Bu.

image

Mon, 10 Oct 2011 @15:43

Remanto tumanggor

Salam sejahtera.........
menarik topik pluralisme untuk dibahas perlu untuk melakukan diskusi, dialog antar agama untuk memahami tentang pluralisme

image

Wed, 12 Oct 2011 @14:05

jobta tarigan

Salam sejahtera

Senang membaca topic ini ditengah gerusan erosi Pluralisme di tengah bangsa ini...benar sekali bahwa kepelbagian adalah keniscayaan ... teruslah berkarya ibu Musdah ...

salam


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno