Para Tokoh Lintas Agama Sampaikan Surat Terbuka Kepada Rakyat

image

Para tokoh lintas agama seperti Prof. Ahmad Syafii Maarif, K.H. Solahudddin Wahid, Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap, Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe, Bikkhu Sri Panyavaro Mahathera, Ida Pedande Sebali Tianyar Arimbawa, Haksu Thjie Tjai Ing Xueshi, Prof. Frans Magnis-Suseno SJ, Dr. Djohan Effendy, MA, Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Dr. Abdul Mu’ti menyampaikan Surat Terbuka Kepada Rakyat di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (18/10). 

Dalam surat terbuka yang dibacakan secara bergantian itu, para tokoh lintas agama menyampaikan 7 point penting yaitu:

1. Kami, para tokoh lintas-agama, kembali menyatakan keprihatinan terhadap situasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan keprihatinan kami saat ini jauh lebih mendalam dan mendasar.

2. Telah cukup lama Presiden dan berbagai tokoh nasional menyatakan berada di garis depan untuk memberantas korupsi. Tetapi ternyata korupsi politik tetap merajalela. Gurita korupsi dari hulu ke hilir melibatkan pejabat kementerian, anggota DPR, para penegak hukum, partai politik, pengusaha, dan sebagainya. 

3. Akibatnya terlihat semakin jelas. Sebagian besar rakyat Indonesia mengalami semakin berat membayar biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok sehari-hari. Rasa aman dan damai terasa semakin jauh di tengah tingginya pelanggaran HAM dan kebebasan beribadat, kekerasan, pengrusakan lingkungan hidup, dan hukum yang tidak berdaulat. 

4. Sangatlah tidak mungkin Presiden di negeri ini tidak mengetahui korupsi tersebut. Dan merupakan hal yang sulit dimengerti oleh pikiran rakyat jika Presiden tidak tahu bagaimana menghentikannya. Namun fakta selanjutnya malah memperlihatkan sejumlah politisi sampai ”menantang” KPK dan ”mengancam mogok” dalam upaya mempertontonkan kekuatan mereka.

5. Kami ingin menyatakan bahwa sebagai tokoh lintas-agama, kami tetap akan melaksanakan tugas-tugas keagamaan dan pendidikan umat sebaik-baiknya yang dapat kami lakukan. Namun, dalam hal menyikapi kepemimpinan Indonesia saat ini, kami ingin menyatakan bahwa kami seperti telah kehabisan kata-kata yang dapat disampaikan sebagai bentuk himbauan moral. Sulit sekali menemukan nilai-nilai unggul kepemimpinan yang akan secara nyata memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Penyebab utamanya adalah kepemimpinan nasional yang lemah. Akibatnya, tidak ada permasalahan fundamental bangsa dan negara yang berhasil diselesaikan secara tuntas. 

6. Kami juga menyadari adanya upaya-upaya untuk mempersalahkan pernyataan dari tokoh-tokoh lintas-agama. Dalam beberapa kesempatan, pernyataan moral seperti ini justru dituduh sebagai penyebab mengapa terjadi tindakan kekerasan atau konflik; padahal hal tersebut jelas amat berbeda dari spirit pernyataan moral tokoh-lintas agama.

7. Kami sangat mengapresiasi dan menghargai rakyat yang telah bekerja keras, mengembangkan solidaritas, serta terus kreatif untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini. Akhirnya, kami mengajak rakyat dan semua pihak terus bekerjasama untuk segera mengakhiri situasi ini sesuai semangat konstitusi kita. Tentunya dengan dilandasi kecintaan terhadap tanah air yang sama, bangsa yang sama, dan menggunakan satu bahasa yang sama antara kata dan perbuatan. 

Tugu Proklamasi, 18 Oktober 2011

Yang menyatakan (kami yang seperti telah kehabisan kata-kata):

1. Prof. Ahmad Syafii Maarif 
2. K.H. Salahuddin Wahid 
3. Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap. 
4. Pdt. Dr. Andreas Yewangoe 
5. Bikkhu Sri Panyavaro Mahathera 
6. Ida Pedande Sebali Tianyar Arimbawa 
7. Haksu Thjie Tjai Ing Xueshi 
8. Prof. Frans Magnis-Suseno SJ. 
9. Dr. Djohan Effendy, MA 
10. Prof. Dr. Azyumardi Azra 
11. Dr. Abdul Mu`ti 

JAWABAN RAKYAT/ KORBAN KEPADA TOKOH LINTAS AGAMA

Kami, rakyat yang tidak dapat mewakili siapa-siapa, menyatakan terima kasih atas pernyataan tokoh lintas-agama. Apalagi kami merasa selama ini tidak memiliki wakil rakyat yang sesungguhnya. Kami merasa pernyataan-pernyataan tokoh lintas-agama sesuai dengan kenyataan kehidupan kami sehari-hari. Pernyataan tokoh lintas-agama makin tegas, namun tetap sejuk dan damai. Dalam situasi apa pun kita tetap harus menjaga perdamaian, solidaritas, dan persaudaraan.

Mengenai apa yang harus kami lakukan sebagai sikap kami terhadap pemimpin nasional, maka kami adalah sebagai korban dari berbagai banyak kebijakan dan pembiaran. Karena itu kami akan melawan. Semoga kami dapat melakukannya dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tugu Proklamasi, 18 Oktober 2011

Atas nama korban-korban kebijakan pemerintah, ketidakadilan, kekerasan, dan pembiaran.

Tue, 18 Oct 2011 @16:03


1 Komentar
image

Tue, 18 Oct 2011 @18:37

GAMKI Papua

Pemimpin yang bijak akan selalu menempakan kesejahteraan rakyat di atas segala kepentingan lainnya. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin bangsa, Presiden seharusnya lebih bijaksana dalam menecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini dengan menempatkan kepentingan rakyat dia attas kepentingan kelompok, golongan, ras dan kartel-kartel politik. Semoga surat terbuka para pimpinan lintas agama hari ini di Jakarta dapat dijadikan kekuatan bagi pemimpin bangsa ini untuk lebih adil dan bijak dalam memimpin bangsa ini. Syaloom...! "Ora et Labora"


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno