Pemuka Agama Membahas Kesehatan Reproduksi

image

 

Beberapa persoalan yang muncul di masyarakat, yang bisa jadi penghambat dalam program Keluarga Berencana (KB) adalah masih kurangnya penyuluhan dan sosialisasi tentang Program KB tersebut. Begitulah informasi yang disampaikan oleh wakil dari kelompok 2 di Workshop yang bertajuk “Pemberdayaan Pemuka untuk Agama Penguatan Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan.” Lokakarya ini telah diadakan pada tanggal 12 Oktober 2011, di gedung PBNU, yang terletak di bilangan Kramat Raya. Hajatan ini merupakan kerjasama antara ICRP dengan BKKBN, yang dibuka oleh Imdadun Rahmat selaku Sekjen ICRP dan Hardiyanto selaku Direktur Bina Hubungan Antar Lembaga. Lokakarya yang diperuntukan kepada peserta yang terdiri dari para pemuka agama, tidak hanya terbatas kepada 6 agama, yang dianggap resmi di Indonesia.

KB Alami

Kelompok 2, yang menyampaikan masih kurangnya sosialisasi ini, secara keseluruhan membahas tema “Keluarga dan KB”. Kelompok ini kembali menambahkan bila salah satu penyebabnya adalah karena masih adanya interpretasi keagamaan yang melarang penggunaan alat KB seperti kontrasepsi. Namun salah satu bahasan, dari kelompok ini, yang cukup mengejutkan adalah masih adanya pemahaman bahwa wanita yang meninggal saat melahirkan bisa dianggap sebagai mati syahid. Munculnya anggapan seperti ini tentu saja adalah kegagalan dalam penyuluhan kesehatan reproduksi. Kelompok ini juga menyarankan agar salah satu solusi yang paling diharapkan adalah sosialisasi ajaran agama yang bisa mendukung program KB, termasuk melakukan KB alami, yang berdasarkan sistem kalender.

Merencanakan Keluarga Berencana dengan sistem kalender ini, yang juga diusulkan oleh kelompok 1 yang  membahas tema ”Pendidikan Kesehatan Reproduksi Pra Nikah”. Di dalam pembahasan kelompok 1 ini, juga membahas ada KB yang alami dan KB alat, yang menggunakan alat kontrasepsi. Hasil diskusi kelompok 1, juga menjabarkan mengenai kontoversi antara KB alami dan KB alat dalam beberapa perspektif agama. Menurut narasumber yang menyampaikan hasil diskusi tersebut mengatakan di dalam Katolik yang namanya KB alat itu, kurang dianjurkan karena dianggap akan melakukan intervensi terhadap karya Tuhan. Demikian juga menurut agama Islam karena yang namanya kelahiran itu adalah fitrah atau sebuah karunia Tuhan. Juga dalam persepektif Kristen yang lebih bisa menerima KB tanpa alat atau KB alami.

Diskusi mengenai KB alami atau KB alat ini menjadi perbincangan yang cukup hangat pada lokakarya ini.  Namun pemaparan diskusi tidak hanya terbatas KB alami atau KB alat. Karena fokus utama dari lokakarya ini cukup meluas yaitu Kespro, atau  Kesehatan Reproduksi. Sehingga ada tiga kelompok lain, yang masing-masing membahas tema yang berbeda seperti Kelompok 3 yang mendiskusikan ”Partisipasi Laki-Laki dalam Kesehatan Reproduksi (Kespro)”, Kelompok 4 yang membahas mengenai ”Hak-Hak Kesehatan Reproduksi”, seperti aborsi, dan kelompok yang terakhir, yaitu Kelompok 5, yang menyampaikan beberapa kasus-kasus yang terkait dengan reproduksi seksual seperti ”Inspeksi Menular Seksual atau Penyakit Menular Seksual”

KDRT

Terkait dengan kesehatan reproduksi bagi perempuan, maka partisipasi laki-laki juga sangat menentukan. Sehingga Kespro sang istri, juga merupakan tanggung jawab dari si suami. Sehingga Kelompok 3, memberikan uraiannya kalau beberapa persoalan yang muncul selama ini, adalah kurangnya partisipasi laki-laki (suami) untuk ikut KB, selama ini KB lebih ditekankan kepada pihak istri semata. Selain itu juga masih kurangnya pemahaman mengenai undang-undang pernikahan. Persoalan kurangnya partisipasi laki-laki ini, juga diperburuk dengan masih seringnya suami yang sering ”jajan” di luar rumah, yang ujung-ujungnya membawa penyakit menular kepada istrinya. Semua muara dari kurangnya partisipasi laki-laki ini, tak lebih dan tak kurang, karena masih adanya pemahaman budaya yang berkembang masyarakat yaitu, laki-laki merasa lebih berkuasa terhadap perempuan, sehingga masalah pelik seperti KDRT masih kerap terjadi.

Dari diskusi mengenai kesehatan reproduksi ini pada akhirnya berujung kepada kesetaraan gender, antara perempuan dan laki-laki. Hal ini yang juga disampaikan oleh Kyai Husein Muhammad, sebagai salah satu narasumber yang menyampaikan materi dengan makalahnya yang berjudul ”Hak-Hak Reproduksi Perempuan”. Kyai ini masih menyayangkan karena masih adanya pandangan keagamaan tekstualitas yang merugikan dan bahkan membahayakan, dan  ini perlu dilihat lebih ke arah substansif. Kyai Husein ini mengatakan,”Jika suami mengajak istri untuk ke tempat tidur dan istri menolak, maka dia akan dikutuk oleh malaikat sampai dini hari. Maka dalil ini yang perlu dikritisi, karena juga harus dilihat apakah alasan si istri menolaknya. Kemudian ada pertanyaan lain, bagaimana bila istri yang meminta dan suami menolak,  maka tidak ada satu teks pun yang membahas hal ini. Jadi ini artinya tidak adil dong.”

Laki-Laki Baru    

Sedangkan terkait kesehatan reproduksi, maka Kyai Husein memberikan jawabannya. Dia menambahkan bahwa di dalam teks Al-quran ada ajakan untuk mengatur jarak kelahiran, seperti yang tertulis di dalam kitab Q.S al-Baqarah,[2:233]. Kyai ini mengatakannya, ”Dalam teks al-Baqarah, ada perintah bahwa mengatur kelahiran minimal pada usia per tiga tahun. Pengaturan kelahiran ini dimaksudkan agar memberikan ruang bagi anak dan ibu, agar dapat memperhatikan kesehatan anak dan ibu.” Jawaban seperti ini yang mungkin bisa dijadikan sebuah acuan agar bisa melangsung KB alami dan menjaga kesehatan reproduksi.

Terkait dengan partisipasi laki-laki, narasumber dari Komnas Perempuan, Masruchah, lebih menginginkan akan hadirnya sosok laki-laki baru. Menurutnya, ”Agama hadir untuk keadilan, bagaimana adil dalam rumah, adil dalam sebuah relasi. Pemuka agama harusnya mampu memberikan tafsir ulang budaya menjadi yang lebih moderat agar tidak ada lagi budaya lama yang dilestarikan. Kita butuh mendekonstruksi budaya agar lebih berkesesuaian dengan konteks kekinian, untuk itulah diperlukan laki-laki baru yaitu para laki-laki yang berjuang menegakkan keadilan dan menghapus kekerasan terhadap perempuan.” Di dalam penyampaian materi itu, Masruchah menambahkan, ”Semoga semua pemuka agama laki-laki yang ada di sini adalah laki-laki baru, yang akan ikut mengampayekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.” Menurutnya mendidik perempuan sama halnya dengan mendidik sebuah keluarga. Karena perempuan lebih mampu untuk membagi pengetahuannya kepada keluarganya.

Di penghujung lokakarya, para peserta, mengharapkan agar para pemuka agama, bisa menyampaikan berbagai hal mengenai kesehatan reproduksi ini kepada jemaahnya masing-masing. Termasuk dilakukan sebuah komitmen, tentang langkah-langkah yang akan disepakati berikutnya, seperti membuat pertemuan ulang untuk menindaklanjuti kegiatan dan turun untuk pendampingan korban. Dan ICRP, tentu saja, akan siap menyanggupi bila kemudian diajak untuk berlibat di kegiatan yang terkait dengan agama dan kesehatan reproduksi. *)

Ditulis oleh: Chris Poerba (pemerhati pluralisme)

Sumber: http://icrp-online.org/102011/post-678.html

 

Thu, 20 Oct 2011 @13:28


1 Komentar
image

Fri, 21 Oct 2011 @11:34

chris poerba

terimaksih banyak, telah dimuatnya tulisan ini. semoga komunikasi yang selama ini terjalin bisa semakin lebih baik lagi. GBu. horas!


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno