Gereja yang Ditutup, Dirusak, dan Penghambatan Beribadah Selama 2011

PGI Kecam Pemblokiran Gereja dan Ibadah‎

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Persekutuan Gereja-gereja Indonesia mengecam keras tindakan Pemerintah Kota Bogor yang bersama aparat kepolisian memblokir jalan ke arah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin dan melarang umat melaksanakan ibadah pada Minggu, 13 Maret 2011. Padahal, selama beberapa bulan terakhir, umat juga tidak bisa menjalankan ibadah di dalam gereja melainkan di trotoar depan gereja.

 

Kali ini, para jemaat justru sama sekali dilarang melakukan ibadat tersebut. Hal ini diakibatkan karena Pemkot Bogor menolak putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan, bahwa IMB GKI Taman Yasmin sehingga gereja itu belum bisa ditempati umatnya karena masih digembok dan disegel.

 

"PGI menyatakan keprihatinan yang sangat dalam atas adanya niat pembangkangan hukum dari aparat negara. Upaya relokasi juga bukanlah solusi yang baik untuk masa depan bangsa ini, karena hanya akan menciptakan segregasi agama di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk," ungkap Sekretaris Umum Majelis Pekerja Harian, Pendeta Gomar Gultom di kantor PGI, Senin (14/03/2011).

 

PGI mengajak semua pihak, terutama Pemkot Bogor, untuk menaati keputusan MA sebagai bentuk ketaatan hukum sehingga umat dapat kembali melaksanakan kegiatan ibadahnya di dalam gereja. Selain itu, PGI mengharapkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah segera menghentikan tindakan diskriminasi terhadap GKI yang telah berlangsung sejak 14 Februari 2008 lalu.

 

Tiga Gereja Dirusak Massa

 

Selasa, 8 Februari 2011 | 12:24 WIB

TEMANGGUNG, KOMPAS.com — Setidaknya tiga gereja di Temanggung, Jawa Tengah, rusak karena menjadi sasaran amuk massa menyusul kerusuhan dalam persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Antonius Richmond Bawengan di Pengadilan Negeri Temanggung, Selasa (8/2/2011). Gereja Bethel Indonesia yang berjarak sekitar dua kilometer dari PN Temanggung mengalami kerusakan akibat pembakaran oleh kelompok massa tersebut. Sebuah bangunan sekolah taman kanak-kanak yang berada di lingkungan gereja terbakar pada sejumlah bagian. Termasuk enam unit motor hangus terbakar akibat insiden tersebut.

 

Selain itu, pembakaran juga terjadi di Gereja Pantekosta Temanggung. Belum diperoleh laporan mengenai dampak pembakaran di gereja tersebut. Sementara itu, Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus juga sempat dirusak massa. Bagian depan gereja rusak dilempari batu.

 

Kondisi terakhir di Kota Temanggung masih mencekam. Toko-toko di pusat kota menghentikan aktivitasnya. Sejumlah pedagang kaki lima pun harus tutup lebih cepat akibat kerusuhan ini. Sementara arus lalu lintas menjadi kacau-balau.

 

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, sidang perkara penistaan agama ini diwarnai kerusuhan. Hanya sesaat setelah jaksa penuntut umum membacakan tuntutan 5 tahun untuk terdakwa Antonius, massa langsung menyerbu terdakwa dan meja sidang.

 

Segera setelah itu, majelis hakim langsung diamankan dan dilarikan ke luar ruang sidang. Massa di luar mengamuk, memecahkan kaca-kaca jendela, dan membakar kendaraan yang ada di sekitar gedung pengadilan. Kasus yang menjerat warga asal Manado ini terjadi pada 3 Oktober 2010. Ketika itu Bawengan, yang menggunakan KTP Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menginap di tempat saudaranya di Dusun Kenalan, Desa/Kecamatan Kranggan, Temanggung.

 

Sedianya ia hanya semalam di tempat itu untuk melanjutkan pergi ke Magelang. Namun, waktu sehari tersebut digunakan untuk membagikan buku dan selebaran berisi tulisan yang dianggap menghina umat Islam. Karena itu, sejak 26 Oktober 2010 ia ditahan.

Penulis: Regina Rukmorini | Editor: Glori K. Wadrianto

 

Presiden Perintahkan Kekerasan Temanggung Diusut

Kupang (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan pengusutan dan penegakan hukum dalam aksi kekerasan yang terjadi di Temanggung, Jawa Tengah.

"Presiden mengecam keras tindakan anarkis yang dilakukan masyarakat dan merusak tempat peribadatan dan fasilitas di Temanggung," kata Menko Polhukam Djoko Suyanto kepada wartawan di rumah dinas Gubernur Nusa Tenggara Timur di Kupang, Selasa sore, disela-sela kunjungan kerja Presiden Yudhoyono di provinsi tersebut.

Ia menambahkan, Yudhoyono juga menginstruksikan Kepolisian Daerah Jawa Tengah mencari pelaku kekerasan dan memprosesnya secara hukum.

Presiden juga memerintahkan seluruh pemerintah daerah, kepolisian dan TNI untuk secara aktif mendeteksi potensi-potensi kekerasan serta mencegah untuk tidak terjadi.

"Lakukan deteksi dini dan bila terjadi segera ditindak dengan tegas," kata Djoko Suyanto.

Terakhir, kata Menko Polhukam, Presiden memerintahkan seluruh aparat di daerah melaksanakan tugas dengan baik dan sesuai dengan kewenangannya, khususnya mencegah agar tidak terjadi tindak kekerasan di daerahnya.

Sementara itu, dalam kesempatan sama, Ketua Komisi III Benny K Harman mengatakan DPR prihatin atas insiden di Temanggung dan mengharapkan kasus itu segera diusut.

"Kami dari DPR merasa prihatin dan menyesalkan, kami minta aparat penegak hukum segera mengambil langkah untuk mencegah, instruksi presiden harus segera dilaksanakan oleh aparat penegak hukum," katanya.(*)

 

Gubernur Lemhanas: Tangkap Perusuh Temanggung

INILAH.COM, Jakarta - Gubernur Lemhanas Ahmad Muladi meminta agara semua pelaku dan provokator yang terlibat kasus pembakaran gereja di Temanggung ditangkap dan diadili.

"Harus cepat diusut. Tangkap saja orang-orangnya yang melakukan pembakaran itu. Pimpinan-pinannya yang jadi provokator harus cepat ditangkap. Tangkap dan adili," tegas Muladi di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (8/1/2011).

Menurut politisi Partai Golkar ini, dalam negara demokratis tidak boleh ada tindakan anarkistis. Tindakan cepat harus dilakukan, agar tidak merembet ke daerah lain. "Anarki itu tidak boleh di negara demokrasi. Harus diusut cepat. Kalau tindakannya cepat tidak akan terjadi merembet ke daerah lain," ujarnya.

Ia menyarankan agar pemerintah bekerjasama dengan ulama untuk melakukan program deradikalisasi. "Habis itu harus ada program deradikalisasi. Program represif itu harus dibarengi dengan deradikalisasi. Tokoh-tokoh ulama yang moderat harus memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Tapi tindakan tegas secara hukum harus dilakukan," katanya.

Sebagaimana diberitakan, kerusuhan terjadi di Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (8/2/2011). Sebanyak satu buah gereja dan satu sekolah dibakar. Satu buah gereja dan satu kantor polisi dan dua pos polisi juga dirusak massa.

Kerusuhan dipicu ketidakpuasaan massa terhadap tuntutan jaksa untuk terdakwa kasus penistaan agama yang digelar di Pengadilan Negeri Temanggung, Jl. Jenderal Sudirman, Temanggung. Jaksa menuntut terdakwa, Antonius Richmond Bawengan (58 tahun), dengan hukuman lima tahun penjara.

Antonius dituding sengaja menistakan agama dengan menyebarkan buku dan selebaran ke warga Desa Kranggan, Temanggung. Buku tersebut berisi hujatan terhadap beberapa agama, terutama Islam.

Massa tidak puas dengan tuntutan jaksa tersebut dan melampiaskannya ke gedung pengadilan. Massa juga merusak gereja dan kantor polisi. [tjs]

 

Kerusuhan Temanggung Versi Ulil JIL

INILAH.COM, Surabaya - Tokoh NU Ulil Abshar Abdalla sekaligus pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) melalui akun twitternya @ulil memberikan runtutan kronologi kerusuhan Temanggung.

Menurutnya kerusuhan di Temanggung ini terkait dengan pengadilan terhadap Antonius R Bawean atas tuduhan penistaan agama. Kejadian bermula sekitar Oktober tahun lalu, Antonius singgah di rumah saudaranya di Temanggung. Saat itulah dia sebarkan buku dan selebaran.

Ada dua buku dan selabaran yg dibagikan Antonius pada malam hari lewat sela-sela pintu rumah penduduk. Selebaran itu berisi keterangan yang menghina agama, bukan hanya Islam, tapi juga agama lain.

Saat Antonius bagikan selebaran itu, ada warga yang melihat. Langsung dilaporkan ke Ketua RT yang kebetulan seorang polisi. Dia kemudian ditangkap.

"Saya belum tahu persis apa isi selebaran dan buku yang dianggap menistakan agama-agama itu. Warga yg mendapat selebaran itu juga tak banyak,"katanya, Kamis (08/02/2011).

Singkat cerita, Antonius penyebar selebaran itu diadili. Sudah kira-kira sebulan ini sidang berlangsung, Setiap sidang selalu dihadiri massa yang tampaknya marah dengan kasus penistaan agama ini.

"Hari ini, sidang membacakan tuntutan. Oleh jaksa, Antonius dituntut hukuman 5 tahun. Massa marah. Mereka ingin hukuman mati," imbuhnya.

Massa lalu ngamuk, menyerang kantor pengadilan, dibubarkan oleh polisi, tapi terus menyebar ke mana-mana. Massa kemudian menuju ke beberapa gereja yg jaraknya sekitar 1 km dari gedung pengadilan. Ada 2 gereja dibakar, satu dirusak.

Sedikit gambaran soal massa yang ikut bergerak hari ini banyak dari mereka yg berasal dari luar kota seperti Pekalongan dan lain-lain.

Tampak sekali massa diorganisir secara rapi dan banyak di antaranya yang datang dari luar kota. Sejak sidang kasus Antonius memang kota Temanggung agak tegang, terutama ketegangan itu dirasakan oleh masyarakat Kristen.

"Hari ini, sekolah Katolik yang ada di dekat gereja Katolik dirusak, diliburkan sejak pagi. Ada sekitar 8 polisi yang jaga di sana,"ungkapnya.

Melihat rentetan peristiwa ini, timbul pertanyaan: siapa yang organisir massa ini? Motif apa yg ada di baliknya? "Saya tak tahu, sebesar apa kekuatan polisi yg diterjunkan di Temanggung. Tapi melihat berita, mereka sudah berupaya maksimal," ungkapnya. [beritajatim.com]

 

 

 

Copyright © 2017 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno