Mengenang Asmara Nababan

image

Indonesia, khususnya kalangan aktivis masyarakat sipil yang bergerak dalam perjuangan penegakan Demokrasi dan HAM, kembali kehilangan pejuang terbaiknya.

Setelah bergelut dengan penyakit kanker paru yang menggerogoti tubuhnya, Kamis, 28 Oktober pukul 12.30 siang waktu setempat Asmara Nababan akhirnya harus menghadap Sang Khalik di Rumah Sakit Fuda, Guangzhou China. Bang As, begitu ia akrab dipanggil, sejak 12 Oktober memang berada di China dalam proses pengobatan kanker paru stadium 4 yang dideritanya satu tahun terakhir ini. Ia meninggal dunia dalam usia 64 tahun.

Setelah bergelut dengan penyakit kanker paru yang menggerogoti tubuhnya, Kamis, 28 Oktober pukul 12.30 siang waktu setempat Asmara Nababan akhirnya harus menghadap Sang Khalik di Rumah Sakit Fuda, Guangzhou China. Bang As, begitu ia akrab dipanggil, sejak 12 Oktober memang berada di China dalam proses pengobatan kanker paru stadium 4 yang dideritanya satu tahun terakhir ini. Ia meninggal dunia dalam usia 64 tahun.


Penulis yakin, banyak kalangan, khususnya mereka yang berkecimpung dalam gerakan Organisasi Non Pemerintah (Ornop, atau sering disebut LSM) di Indonesia, yang berduka, kehilangan, dan terpukul dengan kepergian Bang As. Walaupun namanya mungkin tidak sepopuler tokoh masyarakat sipil lainnya seperti almarhum Gus Dur atau YB. Mangunwijaya namun hemat penulis perjuangan Bang As layak disejajarkan dengan mereka.

 

Pelopor Gerakan Ornop
Ia bukan saja sosok yang kharismatik dan sederhana namun juga menjadi pribadi yang penuh karakter dan penuh kepeloporan. Itu terlihat dari sekelumit sejarah perjalanan hidupnya. Bang As, lahir di Siborongborong, kabupaten Tapanuli Utara tanggal 2 September 1946. Ia lahir dalam keluarga yang cukup terhormat dan berkecukupan ketika itu. Pendidikan S-1 nya diselesaikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Menilik latar belakang keluarga dan status pendidikannya, sejatinya tidak ada alasan bagi Asmara untuk berkecimpung di dunia gerakan pemberdayaan masyarakat yang ketika itu, cenderung dianggap ‘miring’, berbahaya, dan penuh resiko. Namun panggilan spiritulitasnya tak tergoyahkan. Ketika rekan-rekannya Angkatan 66 asik dengan politik praktis dan godaan kekuasaan di awal sampai dengan akhir tahun 70-an, Asmara justru memilih yang tidak populer yakni, tekun dalam gerakan mahasiswa dan gerakan pemberdayaan masyarakat yang terpinggirkan. Bersama rekan-rekan juangnya yang lain, Asmara tercatat menjadi pelopor gerakan Ornop di Indonesia, khususnya di Sumut. Pilihan Asmara tentu bukan sensasi tak berdasar. Saat itu kekuasaan Ode Baru di bawah Suharto semakin membesar, repressif dan otoriter. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah kekuatan penyeimbang di tengah masyarakat. Dan, di tengah kebisuan dan ketakutan banyak kalangan, Asmara menjadi salah satu tokoh yang mempelopori gerakan tersebut.
Beberapa lembaga Ornop yang didirikannya antara lain Kelompok Studi Pengembangan Pemrakarsa Masyarakat (KSPPM) di Parapat, INFID, ELSAM, dan JKLPK di Jakarta. Lembaga-lembaga tersebut, tak bisa dipungkiri, menjadi rujukan dan inspirasi tumbuhnya gerakan-gerakan Ornop lainnya di tahun 80- sampai dengan tahun 90-an. Dan kini aneka Ornop yang tumbuh tersebut, khususnya yang ada di Sumut, tentu tak bisa menegasikan peran, motivasi, dan inspirasi seorang Asmara Nababan, secara langsung atau tidak langsung dalam eksistensi mereka.Sebagai perbandingan, bila abangnya, Pdt. Dr. SAE Nababan (mantan Ketua PGI dan Ephorus HKBP) menjadi tokoh yang berpengaruh di gerakan oiukumenis Gereja maka Bang As menjadi tokoh yang berpengaruh di gerakan Ornop di Indonesia.

Pejuang yang Teguh, Lurus, dan Konsisten
Dalam sepak terjangnya di dunia penegakan Demokrasi dan HAM nama Asmara juga cukup diakui dan dihormati banyak kalangan. Ia dikenal sebagai pribadi yang teguh, lurus, konsisten, dan pantang menyerah dalam memperjuangkan isu-isu HAM yang prinsipil. Ia menjadi satu-satunya aktivis yang diangkat Presiden Suharto menjadi anggota KOMNAS HAM pertama kali lewat Kepres No 50/1993. Ketika itu semua anggota KOMNAS HAM yang dibentuk Suharto diisi oleh mantan militer, polisi, dan birokrat. Asmara menjadi satu-satunya anggota yang berasal di luar pakem kekuasan ketika itu. Kiprahnya di KOMNAS HAM kemudian semakin menunjukkan kredibilitas dan integritasnya. Salah satu barangkali kiprah yang akan dicatat sejarah adalah keberaniannya sebagai Sekjen Komnas HAM di tahun 1999 membuat laporan lengkap dugaan pelanggaran HAM dalam tragedy perang saudara di Timor-Timur pasca referendum. Laporan itu menyebut secara gamblang keterlibatan sejumlah nama Jenderal dalam kerusuhan massal di Timor Timur. Sebuah media nasional yang mewawancarai Asmara ketika itu bertanya mengapa ia berani menghunjuk hidung para jenderal? Asmara menjawab sederhana, "Saya tidak takut kepada Jenderal apapun. Saya hanya takut kepada Tuhan!". Sayangnya, peradilan kasus pelanggaran HAM tersebut kemudian diintervensi secara politis sehingga sejumlah Jenderal lolos dari jeratan hukum. Namun patut digarisbawahi, laporan yang dibuat Asmara dan Timnya kemudian menjadi tradisi dan trade mark bagi institusi KOMNAS HAM di kemudian hari.
Sikap pantang menyerah, tidak cepat puas, konsistensi, dan keteguhannya terlihat ketika ia memasuki ‘masa-masa pensiun’ sebagai aktivis. Bukannnya semakin kendor, semangat dan produktifitasnya justru makin kencang dan menggeliat. Di saat banyak aktivis tua beristirahat ia justru terus bergerak. Ia seakan menjadi seorang pengembara, pencari kebaikan. Pasca keluar dari KOMNAS HAM, ia masih tetap sebagai figur yang energik, keras, dan teguh. Ketika sejumlah kalangan sudah puas dengan perjalan demokrasi Indonesia, bersama almarhum Munir, Th. Sumartana, Arif Budiman, dan Indonesianis asal Norwegia Olle Tornquist, dan sejumlah aktivis muda, Asmara mempelopori sebuah riset kolosal lewat perkumpulan DEMOS untuk memeriksa perjalanan satu dasawarsa demokrasi Indonesia. Hasil riset tersebut kemudian menjadi kerja luar biasa yang berhasil memadukan kerja-kerja aktivis dengan kerja akademis. Outputnya adalah serangkaian temuan masalah, tantangan, dan potret buram satu dasawarsa demokrasi Indonesia serta solusi untuk memperkuat demokrasi Indonesia.
Salah satunya adalah rekomendasi bagi aktivis untuk membuat agenda go politics. Sayangnya go politics yang dihasilkan riset tersebut kemudian dimaknai dan diterjemahkan secara dangkal dan parsial oleh para aktivis di lapangan. Aktivis ramai-ramai memasuki instistusi politik formal namun tak membenahi basis politik di lapis bawah. Asmara kemudian gerah dan mengkritik go politics dangkal tersebut. "Politik aktivis tidak ada bedanya dengan politik elit’, ketusnya dalam sebuah pertemuan evaluasi di akhir bulan Juni kemarin. "Go Politics aktivis itu harus memiliki karakter. Politik mereka harus memiliki nilai lebih dibanding politik elit", ujarnya memberi inspirasi.
Asmara juga orang yang setia dan loyal dengan mandat dan keputusan bersama. Di saat Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Jakarta sedang mengalami kesulitan untuk mencari pelaksana Direktur, karena Direkturnya sedang non aktif mengikuti Pemilu 2009, di usinya yang sudah tak muda lagi, Bang As bersedia menerima tugas tersebut. Sebagian kalangan mungkin melihat itu sebagai cermin dari aktivis yang haus jabatan. Namun pandangan itu sesungguhnya tak berdasar. Saat itu, tanpa menduduki jabatan formal apapun Asmara sesungguhnya sudah memiliki privilege yang membuatnya bisa tenang beristirahat. Namun tugas itu tetap dijalankannya sebagai bentuk dedikasi dan sikap voluntarisme (kesukarelaan) nya yang luar biasa kepada komitmen bersama.

 

Tokoh Keras yang Solider
Di balik sikap kerasnya, bang As juga memiliki semangat dan jiwa solidaritas yang luar biasa. Penulis ingat betul saat seorang sahabat J.Anto, penulis dan peneliti media di Medan, mengalami serangan stroke beberapa bulan lalu. Bang As justru menjadi pelopor dan inisiator untuk menggalang dana solidaritas bagi pengobatan J.Anto. Dalam sebuah pertemuan ramah tamah di Jakarta, beliau memanggil penulis. Saat itu ia sudah terserang kanker paru tapi masih tahap dini. Penulis menduga ia akan mendiskusikan tentang gerakan demokrasi di Sumut. Ternyata tidak. Ia justru bertanya, ‘Bagaimana kabar si Anto. Kenapa tak kalian galang dan dari teman-teman sebagai dana solidaritas untuknya?". Kontan penulis terpaku dan merasa lalai sejenak. Dan setelah acara itu, penulis kemudian menggalang dana untuk J.Anto. Penulis ingat betul ia memberi dana solidaritas sebesar Rp. 500.000,-
Di lain kesempatan saya mendapat cerita kesaksian dari J. Anto. Ketika itu Bang As sedang berkunjung ke Medan sementara J.Anto sedang dalam perawatan di rumah. Pagi-pagi sekali bang As memang menelepon penulis meminta alamat J. Anto. Dari cerita J.Anto kemudian saya tahu ternyata hari itu ia menyempatkan diri membesuk J.Anto di rumah. Padahal ketika itu saya tahu betul beliau tidak lagi begitu fit. Dan J. Anto sendiri terkejut luar biasa. "Aku sedang duduk terapi. Tiba-tiba terdengar suara berat, (memang suara bang As berat, pen), To…To…" ungkapnya kepada penulis. "Aku lihat di depan pintu, eh ternyata ada Bang As dan Josep Adiprasetya (anggota KOMNAS HAM, pen). Aku surprise luar biasa’, ungkapnya.
Kenangan terakhir yang tak mungkin penulis lupakan adalah peristiwa dalam sebuah acara evaluasi politik aktivis di akhir Juni 2010 di Jakarta. Walau sakit, Bang As hadir di sana. Saat penulis adu argumen dan berdebat cukup keras dan lama dengan peserta lain tentang sebuah isu, beliau akhirnya tunjuk tangan meminta bicara. Dia berkata, "Benget itu, dalam bahas Batak, artinya sabar, tenang, ….rendah hati. Semoga Benget yang tadi bicara keras tetap rendah hati!". Bicaranya singkat dan tegas. Tidak menyangkut substansi dikusi. Menusuk ke personal namun cukup reflektif dan inspiratif. Setelah itu diskusi berjalan dengan lancar dan fokus kembali. Dalam berbagai diskusi yang kehilangan fokus, Bang As memang acapkali hadir memberi arah dan menginspirasi walau kadangkala dengan ungkapan yang menusuk hati.
Sekelumit kenangan di atas rasanya cukup untuk menghantar kepergian Bang As ke PenciptaNya. Perjalanan hidup, kepeloporan, keteguhan sikap, konsistensi, dan solidaritasnya yang luar biasa menunjukkan bahwa Bang As adalah orang yang beyond the call of the duty. Ia bukan sekedar aktivis. Tetapi aktivis pejuang yang tidak puas dan pantang menyerah. Ia adalah sosok pejuang Demokrasi dan HAM yang tidak saja anti dengan kemilau kekuasaan dan uang, tetapi juga telah melampaui tugas. Sosok dan tokoh yang langka di republik ini. Selamat jalan Bang As. Tugasmu telah paripurna di bumi ini. Kini tinggallah kami, generasi yang kau juga turut membentuknya, untuk meneruskan cita-citamu mewujudkan demokrasi yang berkedaulatan rakyat dan menjamin serta memenuhi Hak Asasi Manusia.***

Oleh : Benget Silitonga
Penulis adalah Sekretaris Eksekutif Perhimpunan BAKUMSU. Pegiat Demokrasi dan HAM.

Sumber: Harian Analisa (http://www.analisadaily.com)

Copyright © 2017 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno