Ketua Umum PGI

image

Pdt. Dr. Andreas Anangguru Yewangoe
Ketua Umum PGI
Periode 2009-2014

Lahir:

*Mamboru, Sumba Barat, NTT/ 31 Maret 1945

Pendidikan:

*Sekolah Dasar, 1951-1957
*Sekolah Menengah Pertama, 1957-1960
*Sekolah Menengah Atas, 1960-1963
*Sarjana Teologi, Sekolah Teologi Jakarta, 1969
*Master of Theology, Faculty of Theology, Vrije Universiteit, Amsterdam, 1979
*Doctor of Theology, Doctorate Program at Faculty of Theology, Vrije Univ., Amsterdam, 1984-1987

Pengalaman Kerja:

*Ketua Umum PGI Periode 2004-2009
*Dosen di STT Jakarta Program Pascasarjana, 2001-sekarang
*Rektor Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, NTT, 1990-1998
*Rektor STT Kupang, NTT, 1980-1984
*Rektor Akademi Teologi Kupang, NTT, 1972-1976
*Dosen Akademi Teologi Kupang, NTT, 1971
*Pendeta Gereja Kristen Sumba, 1970

Keterlibatan:

*Adviser, Reformed Ecumenical Council, 1992-1996
*Member of Executive Board of CCI/PGI, 1989-1994
*Vice Chairman, Cooperation Body of Indonesia Theology, *Seminaries 1996-2001
*Chairperson of Executive Board of CCI/PGI, 2000-2005
*Board member of Reformed Theological Institutions
*Board member of Promoting Christian Higher
Education (IAPCHE)
*Moderator, cluster Unity, Theology and Mission, CCA
*Advisor, Synod of GKS
*Member Board, Synod of GMIT

Biodata

Andreas Anangguru Yewangoe dilahirkan di Mamboru, Sumba Barat, NTT, pada tanggal 31 Maret 1945. Sehari-harinya, ia biasa dipanggil Yewangoe saja. Hanya kalangan terdekatnya yang memanggilnya dengan nama kecilnya, Andreas. 

Bagi orang dekatnya, Yewangoe punya tempat tersendiri di hati mereka. Sedangkan bagi orang yang belum mengenalnya, ia kerap kali dicap sangat pendiam dan terkesan angkuh. Padahal ia tidak bermaksud angkuh dan semacamnya. Diakuinya, komentar tersebut mungkin muncul karena karakternya yang serius dan tidak banyak bicara.
Istrinya, Petronella Lejloh (baca Leyloh), yang dinikahinya pada 15 Desember 1970, punya kesan tersendiri. Ia menilai Yewangoe sebagai pribadi yang tegas, yang selalu mengerjakan pekerjaannya sampai selesai, tanpa menunda. Namun, pada dasarnya, ia orang yang terbuka, membiasakan berdiskusi di rumah, dan memberi kebebasan kepada keluarga untuk berpendapat. Ia bahkan gelisah kalau tidak ada yang mengkritiknya.

Setelah mengikuti pendidikan dasar selama 6 tahun di Sekolah Rakyat Masehi di Mamboru (1951-1957), pendidikan Menengah Pertama dan Atas di sebuah sekolah Kristen di Waikabubak, ibukota Kabupaten Sumba Barat (1957-1960; 1960-1963), ia melanjutkan studi teologi di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta.  Setelah menyelesaikan studinya di STT Jakarta pada 1969, Yewangoe mengabdikan diri sebagai pendeta Gereja Kristen Sumba (GKS) di Waingapu, Sumba. Mestinya ia menjadi pendeta di daerah pedalaman, namun karena ada satu pendeta yang mestinya menjadi dosen di Akademi Theologia Kupang (sekarang Universitas Kristen Artha Wacana) mengundurkan diri, ia diangkat menjadi dosen yang mengajar ilmu Theologia Sistematika pada 1971. Akademi ini dibuka oleh dua gereja besar yaitu Gereja Masehi Injili di Timor dan Gereja Kristen Sumba. Setahun kemudian, pada usia yang sangat muda (27 tahun), ia dipercaya menjadi rektor UKAW periode 1972-1976. Posisinya itu membuat ia banyak berhadapan dengan para mahasiswa yang usianya jauh lebih tua darinya. 

Pada tahun 1976 ia diutus ke Belanda untuk belajar teologia di Vrije Universiteit, Belanda selama 3 tahun. Ia berhasil menyelesaikan studi S2-nya dan meraih gelar doktorandus teologi pada tahun 1979. Meski awalnnya ia sama sekali tidak bisa berbahasa Belanda, beliau dengan gigih memelajarinya hingga akhirnya lulus dengan nilai yang bagus.  Sekembalinya dari sana, Akademi Theologia Kupang dikembangkan menjadi Sekolah Tinggi Theologia (STT) Kupang dan ia dipercaya kembali menjadi rektor, untuk periode 1980-1984.  Tidak lama kemudian, pada tahun 1984, ia kembali ke negeri Belanda melanjutkan studi S3 di universitas yang sama. Ia meraih gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Theologia Crucis in Asia: Asian Christian Views on Suffering in the Face of Overwhelming Poverty and Multifaceted Religiosity in Asia " bulan September 1987.

Sekembalinya dari Belanda, Sekolah Tinggi Theologia (STT) Kupang sudah berubah menjadi Universitas Kristen Artha Wacana. Ia kembali dipercaya menjabat sebagai rektor untuk dua periode, 1990-1994 dan 1994-1998. Selesai masa jabatannya, ia terus menekuni profesinya sebagai dosen di Fakultas Teologia.  Pada tahun 2001, ia berangkat ke Jakarta dan menjadi dosen ‘Theologia Sistematika’ di STT Jakarta sambil menjalani kegiatannya sebagai salah satu Ketua PGI yang untuk periode 2000-2004 hasil Keputusan Sidang Raya XIII Palangkaraya. Sebelumnya, ia sudah pernah dipilih sebagai Ketua PGI untuk periode 1994-1999, dan menjadi anggota Majelis Pekerja Harian (MPH) pada periode 1989-1994. 

Sejak November 2009, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum PGI yang kedua kalinya, periode 2009-2014 dalam Sidang Raya XV Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang berlangsung di Mamasa, Sulawesi Barat. Sidang Raya PGI kali ini mengambil tema "Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang". Sebelumnya ia adalah Ketua Umum PGI periode 2004-2009 hasil Sidang Raya XIV PGI, di Kinasih, Bogor.

Penulis tetap rubrik "Titik Pandang" di Suara Pembaruan ini dikaruniai dua orang anak. Anak lelakinya yang sulung bernama Yudhistira Gresko Umbu Turu Bunosoru lahir 1972. Menurut pengakuannya, nama Yudhistira diambilnya dari kisah Mahabarata dalam tradisi Hindu. Anak perempuannya yang bungsu bernama Anna Theodore (1980). Meski tak seorang pun dari dua anaknya mengikuti jejaknya menjadi pendeta, namun Yudhistira, yang meraih gelar master dalam ilmu perniagaan dari sebuah universitas di Sydney, Australia, mempersunting seorang pendeta dari Kupang. Kini, Pendeta Yewangoe telah dikarunia seorang cucu perempuan yang lahir pada tanggal … dan diberi nama…

Selain hobi mengajar, membaca buku sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Biasanya, sesudah membaca sebuah buku, ia membagi apa yang telah dibacanya itu kepada sang istri. Tidak cukup hanya membaca buku, ia pun gemar menulis. Beberapa buku yang ditulisnya antara lain “Pendamaian” (1983), “Pengantar Sejarah Dogma Kristen” (2001), “Agama dan Kerukunan” (2002), “Lea”  (2002) serta “Iman, Agama dan Masyarakat dalam Negara Pancasila” (2002). Ia juga mengisi waktunya dengan menulis artikel di beberapa surat kabar. Bahkan, di tengah-tengah rapat pun, ia bisa memecah konsentrasinya untuk menulis suatu artikel. Ia termasuk kategori penulis yang disiplin dan memenuhi tenggat waktu.

Beberapa jabatan lain yang pernah didudukinya antara lain:
- Penasehat Reformed Ecumenical Council (1992-1996)
- Pengurus Persetia (1980-1984)
- Wakil Ketua Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Kristen di Indonesia (1996-2001)
- Pengurus International Reformed Theological Institutions (IRTI), Leiden
- Pengurus International Association for Promoting Christian Higher Education   (IAPCHE), Michigan, USA
- Moderator Cluster Unity Theology and Mission, Christian Conference of Asia (CCA)
- Penasihat Sinode Gereja Kristen Sumba
- Anggota Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor
- Anggota Central Committee, World Council of Churches.

Copyright © 2017 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno