Sekretaris Umum

image

Pdt. Gomar Gultom, M.Th
Sekretaris Umum PGI
Periode 2009-2014

Lahir:

*Tarutung, 8 Januari 1959

Pendidikan:

*Mengikuti Studi Program Doktor Ministry STT Jakarta, 2006-sek.
*Master Teologi, STT Jakarta, 1993
*Sarjana Teologi, STT Jakarta, 1983
*SMA Kristen I PSKD, Jakarta, 1977
*SMP Kristen III, Salatiga, 1974

Pengalaman Kerja:

*Sek. Eks. Bidang Diakonia PGI, 2005-2009
*Kepala Biro Pembinaan HKBP, 2000-2005
*Direktur Program Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JK-LPK), 1999-2000
*Direktur Program Lembaga Pengembangan SDM "Jetro", 1996-1999
*Sekretaris Pembinaan HKBP, 1991-1996
*Dosen STT HKBP, Siantar, 1988
*Pdt Pemuda HKBP Petojo Jakarta, 1987
*Staf Departemen NHKBP, 1985-1986
*Vikariat di HKBP Tonging, Karo, 1984

Keterlibatan:

*Bendahara KSPPM, 2002-sek. (sementara cuti)
*Ketua Komisi Bindik PGIW Sumut, 2001-2002
*Contact Person CCA-URM, 2002-2003
*Wakil Ketua KSPPM Parapat, 2000-2002
*Wakil Ketua Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JK-LPK), 1999-2004
*Contact Person LWF for Spirituality, Word & Image in Lutheran Contexts, 1999-2004
*Pokja PWG Dep. Bindik PGI, 1997-2000
*Konsultan khusus Dep. Bindik PGI, 1998
*Anggota Komisi Liturgi LWF, 1991-1995
*Anggota Pokja PMK HKBP, 1989-1991
*Ketua I Panitia (Tetap) Nasional Perkemahan Kerja Pemuda, PGI,1987-1988
*HKBP Youth Laison di LWF, 1985-1989
*Konsultan Biro Pemuda PGI, 1982-1990
*Sekretaris Kompa PGIW DKI, 1981-1983

Kursus/Seminar/Konsultasi:

*International Diacone Workshop, 17-22 Mei 2009, Buchares, Rumania
*General Assembly 55th Eukumindo,6-8 Oktober 2005, Doorn, Belanda
*Chrurch Respond on Globalization, 5-7 September 2003, Manila
*Pastoral College, 3-7 Juni 2002, Rengsdorf, Germany
*Pastoral College, 17-21 Juni 2002, Iserlohn, Germany
*Strategic Planning CCA-URM, 1-4 Oktober2000, Bangkok
*Debt Campaign Coalition Seminar, 6-8 Oktober 2000, Bangkok
*Course on Church and Society, 1 November - 22 Desember 1993, Hendrik Kraemer Institut, Oegstgeest, Belanda
*Consultation on the Role of the Youth in Human and Natural Resources Development, 30 November-7 Desember 1986, LWF, Kuala Lumpur
*National Christian Youth Convention, 5-12 Januari 1985, Adelaide, Australia
*National Youth Project about Faith and Cultural Exchange, November-Desember 1984, UCA, Australia

Keluarga:

*Istri: Dr. Loli Jendrianita Simanjuntak
*Pekerjaan Istri: Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam di RSUP Fatmawati
*Anak: Agustina Marisi Nauli (20 tahun), mahasiswi Fak. Hukum Univ. Padjajaran
*Alamat: Jl. Anggur III, 31 Cipete Jakarta Selatan
*E-mail: gomar_gultom@yahoo.com

Keterlibatan Sebagai Pendeta HKBP

Segera setelah menyelesaikan pendidikan di STT Jakarta, Desember 1983, Gomar menjalani masa vikariat di HKBP Tonging dan sebagai staf pada Departemen Pemuda HKBP. Masa awal pelayanan ini, dia dikejutkan dengan corak kehadiran gereja yang begitu kental dengan suasana ritus-ritus peribadahan, tetapi warga dan para pendeta terasing sekali dari keterlibatan akan masalah-masalah sosial yang melingkupi kehidupan warga jemaat. Ada 2 isu yang mengemuka ketika itu, yakni perlawanan rakyat di sekitar Porsea terhadap PT. Inalum atas pengerukan sungai Asahan yang menutupi persawahan penduduk dan perlawanan rakyat atas kehadiran pabrik pulp Indorayon yang dikhawatirkan akan merusak hutan dan lingkungan di Sumut. Terhadap semua ini, gereja diam saja dan tidak berbuat apa-apa ketika itu.

Menghadapi ketertutupan gereja itulah, bersama sekelompok kecil pendeta dari gereja lainnya di Sumut, Gomar ikut mendirikan KSPPM. Lewat lembaga inilah kepekaan sosialnya tersalur dan makin terarah. Dan lewat lembaga ini pula mereka menularkan berbagai ide pembaharuan kehadiran gereja di tengah masyarakat desa, khususnya yang selama ini terpinggirkan dan terlupakan.

Ketika kemudian HKBP mempercayakan proses pembinaan para pelayan HKBP kepadanya, dia berupaya mengembangkan bentuk-bentuk pembinaan yang mencoba mengasah spiritualitas pelayan ke arah pelayanan di tingkat grass root. Masa awal keterlibatannya di bidang ini adalah ketika Ephorus S.A.E. Nababan menunjuknya sebagai Sekretaris Pembinaan HKBP, yang bertanggung jawab mengelola rekruitmen pelayan HKBP dan pembinaan para pelayan pada 1991. Isu yang sangat mendapat tekanan ketika itu adalah bagaimana HKBP mempersiapkan para pelayan yang mampu memperlengkapi warga dalam menghadapi era industrialisasi yang maju dan modern, di tengah ketertinggalan HKBP yang begitu nyata ketika itu.

Keterlibatan dalam Gerakan Oikoumene

Selama menjalani masa kemahasiswaannya di STT Jakarta (1978-1984), selain keterlibatan dalam gerakan kemahasiswaan seperti menjadi Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) STT Jakarta, dia juga aktif dalam gerakan oikoumene pemuda gereja. Pada 1981-1983, misalnya, dia dipercaya menjadi Sekretaris Bidang Komisi Pemuda PGIW DKI Jakarta. Pada periode ini dia juga menjadi Wakil Ketua Kelompok 17, sebuah kelompok yang menggagasi berbagai konsep dan bentuk-bentuk pembinaan dan pelayanan pemuda dalam masa-masa awal pembentukan Biro Pemuda PGI. Boleh dikatakan berkat gagasan yang ditelurkan oleh kelompok inilah lahir dan berkembang Pola Pelayanan dan Pembinaan Pemuda PGI sepanjang tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an.

Sesudah ditahbiskan menjadi pendeta HKBP, dia sempat selama setahun melayani sebagai pendeta khusus untuk pemuda di HKBP Resort Petojo, Jakarta. Pada masa-masa inilah, bersama Pdt Sahat Rajagukguk, Pdt. F.W. Raintung, Stephen Suleeman, dll, mereka menggagasi penyelenggaraan Perkemahan Kerja Pemuda Gereja, yang mencoba mengimplementasikan panggilan hidup bersama dalam bentuk aksi nyata bagi masyarakat. Sebagai Ketua I Panitia Tetap Perkemahan ini, dia aktif mempersiapkan perkemahan nasional tersebut, yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Buol Tolitoli dan diikuti oleh utusan pemuda gereja dalam lingkungan PGI.

Sesudah makin banyak kader pemuda yang terlibat dalam gerakan pemuda, dia kemudian banyak melibatkan diri dalam lingkungan Departemen Pembinaan dan Pendidikan PGI. Selama beberapa tahun dia aktif sebagai anggota Kelompok Kerja (Pokja) PWG. Selain menyelesaikan modul penjemaatan LDKG, Pokja ini bersama Gereja-gereja anggota PGI juga menggagasi pembentukan Jaringan Kerja Lembaga/Badan/Pusat Pembinaan Warga Gereja di Indonesia. Selama beberapa waktu oleh Ketua Umum PGI, dia juga diangkat secara resmi menjadi Konsultan Khusus Departemen Bindik PGI. Ketika bertugas di Pearaja, Tarutung, dia juga sempat ditunjuk menjadi Ketua Komisi Bindik PGI Wilayah Sumut pada 2000.

Selama menjalani tugas di Pearaja, Tarutung, dia sangat prihatin dengan lemahnya perhatian gereja-gereja akan proses pembinaan para pelayan. Ada kesan, seolah pendidikan di kampus teologi sebelum menjadi pendeta itu sudah cukup membekali para pendeta dalam pelayanannya di tengah gereja dan masyarakat. Keprihatinan ini yang mendorongnya untuk senantiasa mengundang peserta dari gereja tetangga setiap kali HKBP membuat pelatihan-pelatihan pendeta. Dia juga pernah mempersiapkan dan memimpin pelatihan pendeta yang pesertanya terdiri dari 15 pendeta HKBP dan 15 pendeta dari gereja-gereja Rheinland, Jerman, yang berlangsung 8-21 Juli 2005 di Samosir. Pelatihan serupa diteruskan di Jerman pada 2007. Belakangan ini, bersama Horst Ostermann, Pdt. Dr. Edison Munthe, Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, dan Pdt. Marudut Manalu, dia ikut menggagasi pelatihan Clinical Pastoral Education (CPE) bagi pelayan gereja. Kini kegiatan ini sudah berlangsung beberapa angkatan di RS PGI Cikini.

Keterlibatan dalam Pelayanan Masyarakat

Seperti dikatakan di atas, tergerak oleh ketertinggalan masyarakat desa dan keengganan gereja mewujudkan peran sosialnya ketika itu, bersama para pendeta dan warga dari gereja-gereja lainnya di Sumut, mereka mendirikan Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), sebuah LSM yang berupaya menjalankan tugas panggilan gereja untuk hadir bersama masyarakat miskin, lemah, dan menderita. Saat itu dia dipercaya sebagai wakil Ketua KSPPM, setelah beberapa periode sebelumnya menjadi Bendahara.

Selama menjalani Studi S2 di STT Jakarta, 1989-1991, selain aktif dalam pelayanan buruh di Jakarta melalui PMK HKBP, bersama Luhut Pangaribuan, Ade Rostina Sitompul, Asmara Nababan, Yoppie Lasut, dan beberapa pengacara lainnya, membentuk Lembaga Penyadaran Hak-hak Warga Negara (LPHWN), di mana dia dipercaya sebagai sekretarisnya. Lewat lembaga ini mereka berupaya mengadvokasi hak-hak para tahanan politik, terutama napol eks PKI, yang sangat rentan posisinya ketika itu dan hampir terabaikan dalam beberapa aspek kehidupan selama rejim Orde Baru.

Keterlibatannya dalam pelayanan masyarakat inilah yang mengantarnya selama dua periode, 1999-2004, menjadi Wakil Ketua Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK), sebuah lembaga yang memayungi sekitar 300-an lembaga pelayanan Kristen, termasuk LSM, Parpem/Pengmas/Pelpem Gereja, Panti Asuhan, dll. Bahkan pertengahan 1999 hingga Maret 2009, dia sempat menjadi Pejabat Direktur Program lembaga ini, saat-saat mana JKLPK sangat aktif mengadvokasi pembentukan Kabupaten Mentawai, Konflik Papua, dan Maluku serta isu Hutang Luar Negeri ketika itu.

Keterlibatan dalam Gerakan Kebangsaan

Selama hampir lima tahun melayani di Bidang Diakonia PGI, Gomar sangat intens mengadvokasi penegakan hukum dan HAM di Indonesia. "Warga gereja sering menganggap bahwa konstitusi kita sudah final, padahal bagi sebagian orang belum. Hubungan Negara dan Agama, bentuk pemerintahan kita presidensial atau parlementer, posisi DPD dll adalah di antara hal-hal yang masih menjadi tarik-ulur", demikian katanya. Oleh karena itu, menurutnya, dalam menyelesaikan masalah konstitusi ini, gereja harus terus aktif berjuang agar penyelesaian masalah konstitusi tidak dibelokkan oleh semangat sektarianisme. Demikian juga dalam hal penegakan hukum. "Hukum adalah produk politik dan merupakan cermin kemenangan dari kekuatan-kekuatan politik ril. Di dalamnya termasuk penguasaan taktis-taktis legislasi, bukan hanya soal kekuatan jumlah. Oleh karenanya gereja harus melibatkan diri di sini, walau berada dalam jumlah yang kecil, agar produk hukum tidak bias kepentingan agama tertentu.

Selain itu, Gomar juga sangat aktif dalam upaya menggalang kehidupan bersama dalam masyarakat majemuk. Selain ikut menggagasi berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), dia juga aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, yang keduanya berupaya memerangi kecenderungan intoleransi yang makin marak dewasa ini, apakah dalam penyeragaman budaya maupun aksi-aksi penutupan rumah ibadah. Menurutnya, peran PGI dan gereja-gereja di Indonesia sangat penting di sini dalam rangka menjaga komitmen bangsa ini untuk hidup bersama dalam masyarakat majemuk.

 

Copyright © 2017 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia · All Rights Reserved
powered by sitekno